ta'aruf

Foto Saya
Orang biasa, belajar lewat diskusi dan sharing ide, berusaha terbuka terhadap pemikiran orang dan referensi, dan yang penting punya prinsip tentang kebenaran.Senang bersilaturrahmi dan berbagi untuk semua.

Jumat, 15 Januari 2010

Kuliner: Sate Bebek Tambak



Banyumas tidak saja terkenal karena bahasa jawanya yang medok dan ngapa-ngapak, yang ini berbeda dengan orang Jogja, Solo dan Semarang, tapi juga karena di Banyumas memiliki potensi yang luar biasa. Di daerah ini terkenal ada gethuk Sokaraja, soto Sokaraja, tempe mendoan dll. Dan jangan lupa bahwa Banyumas juga punya satu kecamatan, Tambak namanya, yang mempunyai makanan khas, yaitu SATE BEBEK.

Tambak adalah kecamatan yang terletak di ujung timur Kab. Banyumas. Sebelah barat berbatasan dengan Kec. Sumpiuh, selatan dan timur dangan Kab. Kebumen, utara dengan Kec. Somagede dan Kab. Banjarnegara. Topografi wilayahnya, sebelah utara terdiri pegunungan yang sangat lebat pepohonannya, sedang selatan dataran rendah.

Di bagian selatan inilah membujur jalan besar penghubung dari Cilacap, Purwokerto, Bandung, Jakarta menuju Jogjakarta, Semarang dan Solo. Dua puluh empat jam non stop jalan ini dilewati segala jenis kendaraan. Di sepanjang jalan besar inilah, bertebaran warung sate bebek. Menurut data ter-up to date, jumlah warung sate bebek berjumlah kuang lebih 40 buah. Ini belum ditambah pada saat mudik lebaran yang biasanya bermunculan warung sate bebek dadakan.

Dalam sejarahnya, sate bebek adalah made by dan racikan seorang penduduk asli Tambak, tepatnya desa Purwodadi sekitar Masjid Kauman Tambak. Menurut cerita orang-orang, penjual ini (kalo tidak salah namanya Pak Sono) biasa berjualan keliling. Banyak orang yang suka dengan aroma nikmat masakan Pak Sono. Kemudian terus berkembang. Sebagai bahan dasarnya adalah daging bebek yang penyajiannya dibumbui sambal kacang dan becek atau gule.

Dalam perkembangannya, resep temuan Pak Sono ditiru oleh banyak orang yang kemudian berjualan secara mangkal di sepanjang jalan Tambak. Mulai dari surupan (terowongan kereta api) menuju ke arah timur pasar. Dari pasar kemudian ke timur lagi, warung sate bebek lebih banyak lagi, baik yang permanent maupun yang model tenda.

Karena langka dan mahalnya bahan baku bebek, saat ini para penjual sate ini tidak menggunakan daging bebek lagi, tapi kemudian beralih ke daging enthok, menthok, atau itik. Karena harganya murah dan dagingnya lebih banyak. Meskipun berganti bahan dasar, namanya tetap S-A-T-E B-E-B-E-K. Hayoo gimana tuuhh!!!??? Yang jelas hingga saat ini, bila orang menyebut Tambak, maka yang terlintas dalam pikiran adalah sate bebek.

Tentang harga? Itu tergantung pesanan. Kelas ekonomi harganya sekitar Rp.6000,- sampai Rp.8000,-, isinya campuran satu piring nasi, 3-4 sindik (tusuk) sate dan kuah becek (gule) plus sambal kacang.Umumnya orang menyebutnya “nasi sate campur”. Yang kelas menengah Rp.12.000,- berisi satu piring nasi, 10 sindik sate dan semangkuk becek isi balungan. Dua model ini biasanya dilayani di warung ‘tenda’. Para pengemudi angkot, truk, sales,dan orang kampung sekitar biasanya menjadi pelanggan setia tipe ini.

Ada lagi yang kelas eksekutif, biasanya yang model warung permanent, tempatnya luas santai dan berkelas. Harganya sekitar Rp.15.000,- sampai Rp.20.000,-. Pelanggan umumnya adalah yang bermobil dan mereka-mereka yang dalam perjalanan. Ketika hari libur, terlebih pada saat mudik lebaran, hampir warung sate tidak ada yang sepi. Rasanyapun macem-macem: ada yang pedas, agak asin, atau gurih. Soal enak itu tergantung selera. Karena taste (rasa) lidah orang itu berbeda. Para penjual sate bebek sekarang mulai berinovasi dengan sajian bebek goreng dan rica-rica bebek (ech… menthok koq!!??)

Penulis sendiri sudah bosan karena saking seringnya dulu beli. Sekarang tidak begitu suka atau sekali-kali beli, itupun hanya sebatas pelepas ‘kangen’ di lidah. Dan ingat.., daging enthok mengandung kolesterol tinggi, sehingga hati-hati bagi anda yang berpantang dengan kolesterol. Tapi… kalau sekali-kali boleh lach.

Selamat mencicip dan menikmati aroma nikmat dan empuknya daging sate bebek (ech… sate menthok!!!!). (Yang ini masuk kategori pembohongan public bukan???!!!! Atau orang sudah salah kaprah kali…)

Catatan: Penulis adalah tetangga warung-warung sate bebek, dengan menghirup baunya saja, rasanya sudah kenyang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

umpan balik