ta'aruf

Foto saya
Orang biasa, belajar lewat diskusi dan sharing ide, berusaha terbuka terhadap pemikiran orang dan referensi, dan yang penting punya prinsip tentang kebenaran.Senang bersilaturrahmi dan berbagi untuk semua.

Kamis, 14 Januari 2010

Enak Makan dan Makan Enak


ENAK MAKAN DAN MAKAN ENAK

Orang bijak bilang, lebih baik enak makan dari pada makan(an) enak. Orang yang sedang lapar ditambah sedang mood nafsu makan yang besar, ketika ditawari makanan yang berasa biasa-biasa saja, maka akan lahap memakannya. Karena ia sedang enak makan. Petani yang seharian berpeluh keringat di sawah, hanya disuguhi nasi rames ditambah tempe bacem, akan merasakan nikmat tiada tara. Apalagi kalau sedang enak makan disodori makanan enak. Klop dech….., ‘ enak makan plus makan enak’.

Orang yang sedang kondisi stabil dan biasa-biasanya saja, ketika ditawari makan enak ---apalagi gratis---, maka libido alias syahwat makannya akan terdongkak secara evolutif alias pelan-pelan, ataupun revolutif, spontan dan tak terkendali. Wong penginyongan bilang: dia bisa kemaruk dan makannya terus tanduk.!!! Bila remnya ndak pakem alias jor-joran, ‘ritual’ nafsu makan ini bisa berbahaya dan bisa menimbulkan banyak penyakit. Lebih dari itu, dia sedang berkolaborasi dengan syetan karena sikap borosnya (mubadzir). Dia menjadi malas beribadah.

Sebaliknya, kalaupun makanan yang disajikan sangat menggoda selera plus disajikan oleh sang istri yang cantik sekalipun, , tapi karena dasarnya lagi gak nafsu, disuapipun tetap ogah-ogahan. Iya khan…!! Gak selera karena sedang sakit, terburu-buru ataupun sedang kalut bundet banyak pikiran alias stresss. Yang ideal adalah sikap ‘moderate’ dan menjaga kondisi yang stabil. Memiliki suasana “enak makan’ dan ‘makan(an) enak’, ini yang harus disyukuri. Atau setidaknya kita berada dalam suasana ‘enak makan’ walaupun makanan tidak begitu enak.

Berbicara tentang syahwat makan yang tak terkontrol dan berujung munculnya banyak penyakit dan malas beibadah, Umar ibn al-Kaththab RA berkata:

“Jauhilah olehmu banyak makan, karena banyak makan menjadikan malas untuk shalat, merusak badan, dan mendatangkan penyakit”.

“Wajib bagimu bersikap ekonomis dalam urusan makananmu. Karena sikap ekonomis (bercukup diri) itu menjauhkan dari sikap boros, lebih menyehatkan badan dan memotovasi untuk beribadah”

“Sesungguhnya tidaklah binasa seorang hamba, kecuali dia telah mengunggulkan syahwatnya di atas agamanya”.

Mudah-mudahan kita lebih berhati-hati dalam urusan makanan, dan yang penting juga untuk kita perhatikan adalah; bahwa apa yang kita makan itu halal dan thayyib. By abu farros

Rabu, 13 Januari 2010

Empat Kebahagiaan Hidup Di Dunia



Siapa orangnya yang tidak menginginkan kebahagiaan dalam hidup di dunia. Setiap dari kita pasti menginginkannya. Karena kebahagiaan itulah yang menjadikan kita merasakan ketentraman, kedamaian dan kenyamanan dalam mengarungi hidup ini. Tanpa kebahagiaan orang akan merasakan bahwa hidup ini kosong, tidak bermakna (meaningless), menyengsarakan, penuh nestapa dan siksaan. Oleh karena itulah, kita menyaksikan ada orang yang tega mangakhiri hidupnya dengan bunuh diri dikarenakan dia tidak mendapatkan kebahagiaan dalam hidup (happy life).

Namun, kebahagiaan (happiness, assa’adah) bagi tiap orang akan berbeda dalam asal-usul, bentuk dan hakekatnya yang itu sangat bergantung pada masing-masing individu dan ditentukan oleh nilai, status sosial, pengetahuan, umur, dan backgraound yang dimilikinya. Dus, kebahagiaan itu bersifat relatif , dimana setiap orang akan memaknai dan merasakan secara berbeda-beda. Apalagi ketika kebahagiaan itu sebatas urusan dunia yang profane dan temporal.
Bagi seorang anak kecil, bahagia adalah ketika ia memiliki mainan anak-anak yang disukainya, yang ini justru tidak menjadi sumber kebahagiaan bagi orang yang sudah dewasa. Sedang bagi orang yang terkena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati), bahagia adalah ketika dirinya bergelimang dengan kekayaan, dikerumuni wanita cantik- (wanita yang dikerubuti banyak laki-laki), - kebebasan dalam hidup yang tidak terbatasi oleh aturan dan orang lain, memilki kekuasaan melebihi atas orang lain, kendaraan yang mewah dsb. Lain lagi bagi seorang petani, bahagia adalah ketika hasil pertaniannya bagus dan mendatangkan keuntungan yang banyak dan hidup tenang tanpa gangguan orang lain dan tikus-tikus jalang.

Bagi seorang muslim, kebahagiaan tidak identik dengan kepemilikan materi yang melimpah dan property yang bernilai duniawi. Dunia itu penting, karena sebagaimana kata Rasulullah SAW bahwa, dunia adalah ladang akherat. ”Addunya mazro’atul akhirah.”. Dunia bak ladang bertanam amal kebaikan bagi orang yang beriman untuk kelak bakal menuai kebaikan di akherat. Siapa saja yang tidak menggunakan kesempatan bertanam amal kebaikan, maka di akherat dirinya bakal menuai hasil kejelekan dan penyesalan.

Dan, jangan lupa, bahwa bagi orang yang beriman, kebahagiaan dunia bukanlah suatu yang bersifat khayali, tapi sebaliknya kebahagiaan itu memang ada,seiring dirinya tekun beramal shaleh untuk meraup kebahagiaan yang hakiki. Baginda Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam berkata :

اربع من السعادة : المرأة الصالحة والمسكن الواسعة والجار الصالح والمركب الهنىء—واربع من الشقاء: الجار السوء والمرأة السوء والمركب السوء والمسكن الضيق (رواه أبن حبان)
“Ada empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalehah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang : tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalehah), kendaraan yang jelek dan tempat tinggal yang sempit”.

Dalam hadist ini jelas bahwa kebahagiaan di dunia di antaranya ada empat yang itu dihadiahkan bagi orang yang beriman. Pertama: istri yang shalehah yaitu istri yang taat dalam beribadah dan taat pada suami. Tidak sekedar cantik tapi lebih dari itu, yaitu ketaatan dalam memegang dinul islam. Inilah figur perempuan yang selalu terucap dalam doa setiap suami yang shaleh : “Ya Allah, karuniakanlah kepada kami, hiasan mata berupa istri dan anak yang shaleh dan shalehah”. Kedua: tempat tinggal atau rumah yang lapang. Syukur rumah itu berukuran luas sehingga tidak pengap dan penuh sesak, sehingga leluasa untuk berkumpulnya sepasang suami istri dan anak yang banyak. Namun makna substantifnya adalah hadirnya suasana rumah yang damai, berhiaskan nilai-nilai islami, jauh dari pertengkaran, tempat yang nyaman bagi semua penghuninya,--meskipun ukuran tidak begitu luas—sehingga aroma syurgawi betul-betul menaungi seluruh kaluarga. Ketiga: tetangga yang baik, yaitu orang-orang yang hidup di sekeliling kita. Bersama merekalah kita bertemu untuk pertama kali dan kepada merekalah kita saling berta’awun. Sedang yang keempat; kendaraan yang nyaman. Kepemilikin kendaraan sangat bergantung pada tingkat ekonomi dan kemauan seseorang. Bagi seorang mukmin, kendaraan apapun, apakah itu mobil keluaran terbaru ataupun tua, sepeda motor…. apapun bentuknya, sampai sepeda onthel sekalipun, asal dirawat maka akan enak dan nyaman untuk dikendarai. Tentunya disertai dengan rasa syukur pada Allah SWT.

Semoga kita mendapatkan empat kebahagiaan hidup di dunia ini dan juga kebahagiaan yang hakiki di akherat kelak. Amien.

Wallahulmusta’aan. By abu farros

Senin, 11 Januari 2010

PASAR DAN GAYA HIDUP KONSUMEN


Abu Farros*

GLOBALISASI PASAR
Globalisasi sebagai gejala yang dialami oleh seluruh bangsa telah mengakibatkan banyak perubahan dalam segala aspek kehidupan: sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Era globalisasi digambarkan sebagai era dimana dunia tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, karena telah diintegrasikan oleh sebuah sistem global (global system). Dengan menggunakan media komunikasi yang serba canggih, interaksi manusia berhasil dibangun sedemikian rupa dan mudahnya sehingga hubungan menjadi bersifat impersonal. Dunia berhasil dilipat menjadi Global Village. Orang tidak lagi harus bertemu secara berhadap-hadapan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi dengan menggunakan piranti komunikasi, ia bisa mendiskusikan dan mengekspresikan hasrat dan keinginannya (desire and wants).

Dalam konteks ini mungkin kita sah-sah saja untuk mempertanyakan sejauhmana efektifitas kemajuan teknologi yang menandai era globalisasi , khususnya dalam bidang ekonomi. Dan bagaimana globalisasi dalam bidang ekonomi mampu menciptakan budaya konsumsi (consumption culture). Dua persoalan inilah yang akan dibahas dalam tulisan berikut.

Perkembangan suatu bangsa tidak bisa lepas dari pertumbuhan ekonomi yang ada di dalamnya. Hal ini penting sebab pertumbuhan ekonomi (economic growth) sering menjadi ukuran kemakmuran suatu bangsa. Tindakan ekonomi yang dijalankan oleh seseorangpun tidak bisa dilepaskan dari kultur, motivasi dan nilai yang dianutnya. Bahkan agama sering menjadi faktor determinan yang menentukan pola tindakan ekonomi. Oleh karena itu, Max Weber, setelah melakukan pengkajian mendalam tentang agama Kristen Protestan dalam kaitannya dengan ekonomi, ia sampai pada kesimpulan bahwa ajaran Protestan sekte Calvinis punya peran dalam mendorong terciptanya masyarakat. Inilah yang mengilhaminya untuk menulis buku berjudul “ The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism”.

Berbicara soal tindakan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari perhitungan keuntungan (profit calculation), yang embeded dalam praktek perdagangan atau ekonomi. Ada dua pola tindakan yang biasa dilakukan oleh para pelaku ekonomi. Pertama, ialah tindakan ekonomi yang bersifat subsisten. Dalam pola ini orang hanya mampu memenuhi kebutuan hidup (survive), bersifat komunal dan tidak berorientasi pada untung . Sedang yang kedua, ialah tindakan ekonomi yang berorientasi pasar, (market oriented) yang ini ditandai oleh adanya kecenderungan untuk melakukan ekspansi pasar, profite oriented, akumulasi modal, bersifat rasional dan individual.

EKSPANSI PASAR
Pasar adalah institusi yang paling penting dalam aktivitas ekonomi . Pasar mampu menggerakkan dinamika kehidupan ekonomi yang di dalamnya terdapat proses tawar menawar baik secara langsung maupun tidak untuk menentukan harga pasti (fixed cost). Sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, pasar mampu memainkan fungsinya sebagai pengendali harga, sehingga harga tidak mengalami fluktuasi tajam. Stabilitas harga inilah yang sebetulnya memberikan keuntungan bagi para pelaku ekonomi.

Dengan makin majunya masyarakat dalam berbagai bidang, ternyata pasar juga mengalami pergeseran baik dalam fungsi maupun cara operasi (mode of operation). Dalam pengertian tradisional, pasar diartikan sebagai tempat jual-beli yang lebih mencirikan sebagai aktifitas ekonomi harian (daily-economic activity). Namun fungsi ini telah mengalami perluasan, dimana pasar pada era sekarang ini juga berfungsi sebagai pusat rekreasi dan bersantai. Para pengunjung yang datang tidak semata-mata untuk berbelanja, tapi banyak yang mencari hiburan dan menghilangkan stres.

Fenomena ini sangat umum kita saksikan di banyak kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogya, Medan dan kota lainnya. Pasar telah disulap menjadi shoping centre, mall, super market, departemen store, mega store dan lain-lain. Para pengunjung yang datang selain berbelanja juga bertujuan untuk menikmati suasana santai bersama keluarga, atau sekedar ingin tahu harga barang, bahkan banyak yang bertujuan untuk mejeng bagi kawula muda. Melihat kecenderungan ini banyak pusat perbelanjaan yang kemudian menawarkan berbagai produk berupa sarana hiburan bagi anak-anak dan café sebagai tempat bersantai.

Model transaksi juga mengalami pergeseran, dimana antara penjual dan pembeli tidak harus bertemu langsung, tapi mereka mampu melakukannya dalam jarak yang jauh dengan menggunakan layanan jasa teknologi seperti telepon. Bahkan sekarang sudah dikembangkan model transaksi melalui media internet, yang sangat memungkinkan bagi para pelaku ekonomi melakukan transaksi secara cepat. Inilah yang kemudian disebut sebagai pasar maya (virtual market). Dalam teori ekonomi neo-klasik, cara transaksi jual beli barang melalui internet adalah sistem yang efektif, cepat dan produktif, karena transaction cost-nya akan berkurang dan relatif lebih murah.


GAYA HIDUP (LIFE STYLE)
Dalam melakukan ekspansi, para produsen harus jeli melihat kebutuhan pasar. Kebutuhan pasar (konsumen) sangat dipengaruhi oleh budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam praktek ekonomi, para produsen makin lihai dalam mengelabuhi keinginan pasar, dengan cara menciptakan image dan taste agar konsumen tertarik dan mau membeli barang produksinya.

Kondisi ini diciptakan melalui rekayasa keinginan pasar seiring dengan makin terpolanya cara berfikir dan gaya hidup konsumen. Contoh konkrit: citra jantan dan cantik telah begitu mengagumkan dimanipulasi oleh para produsen dengan cara menyodorkan produk tertentu (seperti rokok, obat khusus pria, kosmetik, dan obat khusus wanita) melalui media iklan. Seperti yang dikatakan oleh Andre Warnich bahwa dalam masyarakat yang makin kapitalistik, dimana komoditas merasuk ke sektor-sektor kehidupan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan , budaya promosi (promotion culture) merupakan sesuatu yang tidak bisa dikesampingkan.

Agen terpenting dari budaya promosi adalah media masa baik cetak maupun elektronik, terutama melalui advertensi atau iklan. Iklan berfungsi sebagai media yang mengantarai interaksi antara produsen dan konsumen. Dengan iklan pula, kelompok pemasar komoditas menginterpretasikan dan mensosialisasikan nilai guna dari suatu komoditas dan memproyeksikannya ke pasar global. Karena itulah iklan merupakan bagian penting dan strategis untuk pemasaran komoditas.
Kita menyaksikan bahwa mekanisme pasar mampu dijalankan oleh produsen melalui media-media yang mudah diakses oleh konsumen. Televisi adalah media yang paling efektif untuk mempromosikan suatu produk kepada calon pembeli. Penayangan yang berulang-ulang dengan menampilkan bintang iklan terkenal yang merupakan publik figur, diharapkan mampu merangsang daya emosi penonton atau calon pembeli untuk membelinya. Di sini ada harapan akan tercipta interaksi simbolik ketika calon pembeli mencoba menerjemahkan simbol atau pesan yang ditawarkan oleh bintang iklan, kemudian ia berusaha untuk “menjadi” seperti bintang iklan yang diidolakan. Dalam kondisi seperti ini, pembeli (konsumen) seolah terhipnotis dan tidak lagi cerdas dalam memilih kualitas barang dan mengukur daya belinya.

Terlebih dengan berubahnya gaya hidup, telah mendorong produsen untuk lebih gencar lagi mempromosikan produknya melalui berbagai media dengan memberi berbagai fasilitas seperti jaminan garansi, sistem pembayaran dengan menggunakan kartu kredit, pemberian bonus yang menarik, sistem pembayaran cicilan dan jaminan lainnya yang lebih mudah. Alhasil banyak konsumen yang membeli barang bukan semata-mata didorong oleh kebutuhan (need), tapi sekedar untuk memenuhi keinginan (desire) guna menaikkan status. Di sini jelas bahwa kebutuhan konsumen akan barang bukan lagi bersifat natural, -sebagai pemenuhan kebutuhan yang memang harus ada-, tapi telah bergeser menjadi konstruksi budaya (culturally constructed) yang direkayasa oleh pasar (produsen).

Akhirnya dengan menggunakan tiga karakter yang disodorkan oleh Feather-stone, dapatlah dipahami bahwa tawaran berupa kesenangan (pleassure), mimpi-mimpi (dreams) dan status yang tinggi (high status), telah berhasil menggiring para konsumen untuk membelanjakan uang dan waktunya (westing money and time) untuk memenuhi gaya hidupnya (life style). Dan ini berhasil dibaca oleh para produsen.

URUN REMBUG: Kota Tambak Ke Depan

MENYISIR JALANAN KOTA TAMBAK BANYUMAS

Menyusuri jalan raya Tambak saat ini sungguh sangat mengagumkan. Jalan yang lebih halus dibanding beberapa tahun yang lalu, badan jalan yang lebih lebar, serta arus lalu lintas juga lebih lancar dan ramai. Maklum karena jalan ini masuk dalam kategori jalan nasional, sehingga perhatian pemerintah lebih intensif dalam upaya memberikan pelayanan kepada warganya, yang diharapkan dengan perbaikan sarana transportasi akan berimbas pada perbaikan perekonomian rakyat.

Secara mikro ini ditandai dengan bermunculannya banyak sentra ekonomi rakyat berupa berdirinya banyak pertokoan dan warung makan sepanjang jalan di Kec. Tambak. Meskipun masih terkonsentrasi di seputaran pasar Tambak ke arah timur, namun tahun-tahun ke depan diharapkan bisa merata ke wilayah Tambak bagian barat, yaitu dari ibu kota kecamatan ke barat sampai perbatasan dengan Sumpiuh.

Ada dampak sampingan dari ketersediaan infrastruktur transportasi ini, yaitu seringnya terjadi kecelakaan karena sikap kurang hati-hati para pegguna jalan, baik yang berkendaraan besar maupun kecil. Hal ini jelas menuntut kewaspadaan para users (pengguna jalan); pejalan kaki, sepeda onthel, sepeda motor, sampai kendaraan besar. Sungguh ini sangat kompleks dan menjadi PR bagi pemerintah khususnya instansi-instansi terkait karena hampir tiap hari terjadi kecelakaan baik kategori kecil maupun besar.

Kesemrawutan akan tampak terlebih ketika pada hari-hari libur, di mana semua jenis kendaraan tumpah di jalanan. Mobil-mobil yang mayoritas berplat B dan D banyak meluncur dengan kecepatan tinggi menikmati jalanan yang lurus halus dan lebar dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Di sisi lain ada beberapa pengguna sepeda motor juga tak mau ketinggalan, menyelinap bergerak cepat dan zig-zag yang jelas sering bikin terkejut pengguna yang lain.

Di tengah deru desingan knalpot kendaraan besar serta cepatnya laju kendaraan yang kadang dikemudikan oleh orang yang tak tahu betul medan jalan -, ternyata juga masih banyak nongol sepeda onthel dan pejalan kaki yang kadang juga sembrono memotong jalan. Alhasil … braaaak!!!!, ujung-ujung urusannya ke kepolisian dan puskesmas.

Menurut saya, juga kita semua, kesadaran dan ketaatan pada aturan berlalu-lintas jelas menjadi prioritas utama bagi semua pengguna jalan. Sehingga jangan sampai nyawa menjadi taruhan dan pemandangan umum tiap hari. Sikap sabar dan toleran di jalan raya mutlak diperlukan. Untuk instansi terkait saya mengusulkan: “tolong dibuatkan ZEBRA CROSS (zona selamat menyeberang) di beberapa titik misalnya : di depan SDIT Darul Falah Karang Turi, perempatan Gumelar, pertigaan SMP dan KUD, perempatan Karangpucung, pasar Tambak, pertigaan TOKO MENTARI timur pasar, depan Masjid Kauman Tambak”. Diperbanyak rambu-rambu lalu-lintas dan yang penting lagi adalah ketersediaan lampu penerangan jalan kala malam hari Diharapkan ini bisa memberikan rasa aman bagi para pengguna jalan dan menekan angka kecelakaan yang jelas tidak kita harapkan.

KOTA TAMBAK KE DEPAN

Laju pertumbuhan penduduk dan makin meningkatnya aktivitas perekonomian, sangat sinergis dengan ketersediaan layanan (service) yang diberikan oleh pemerintah baik dalam bidang kesehatan, pertanian, kesempatan menyampaikan pendapat dll. Tumbuhnya pertokoan dan pedagang “tenda” di sepanjang jalan raya tambak bak cendawan di musim hujan, mengindikasikan bahwa masyarakat mampu merespon tuntutan pasar dalam upaya peningkatan ekonomi keluarga.

Bukti konkritnya adalah merebaknya warung makan sate bebek sebagai makanan khas Tambak, baik yang permanen maupun semi permanen (tenda). Untuk saat ini memang tidak menjadi masalah serius. Tetapi untuk waktu ke depan, pemerintah yang berwenang mulai saat ini sudah harus memiliki master plan tata kota, yang memuat; regulasi (aturan) tentang pendirian bangunan, warung makan baik yang permanen maupun “tenda”; parkir kendaraan pengunjung warung sate sehingga tidak mengganggu lalu lintas; penertiban iklan; dan jaminan keamanan bagi semua warga baik yang asli Tambak maupun pendatang (musafir).

SATE BEBEK SEBAGAI MAKANAN KHAS

Berbicara soal SATE BEBEK, di sini saya mengusulkan kepada pihak-pihak terkait khususnya Pemerintah Kecamatan dan Kabupaten;

A. Pentingnya mengangkat SATE BEBEK sebagai makanan khas sekaligus ciri khas Kota Tambak. Bila melihat fenomena sekarang ini, jelas, bahwa SATE BEBEK, sudah menjadi trade mark Kota Tambak, terbukti banyak pembeli dari berbagai daerah sengaja menyempatkan untuk menikmati aroma nikmat sate bebek. Terlebih pada hari-hari libur.

B. Perlunya promosi sate bebek yang dilakukan oleh para stake holder di Kabupaten Banyumas. Dengan harapan akan menyerap banyak tenaga kerja, menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat (produktivitas masyarakat) yang akhirnya meningkatkan kesejahteran warga .

C. Penempatan warung sate bebek, khususnya yang model “tenda” secara tepat dan tertib. Bila tidak maka akan menimbulkan masalah yang kompleks, lingkungan yang kotor, kesemrawutan perparkiran, dan hilangnya keindahan kota.

D. Ada jaminan keamanan bagi semua warga dan penikmat sate bebek. Karena pernah beberapa kali terjadi pencurian barang bawaan para penikmat sate bebek, khususnya yang datang dari luar daerah atau para musafir.

E. Sudah saatnya pemerintah atau pihak pemilik modal seperti bank memberikan modal bagi para penjual sate bebek agar dapat meningkatkan produktivitasnya, khususnya pada mereka yang bermodal pas-pasan. Syukur-syukur lunak sifatnya.

Demikian corat caret saya, urun rembug sebagai warga Tambak, semoga bermanfaat.

Sekian……..nuwuuunnn….

Sabtu, 09 Januari 2010

MANUSIA ULUL ALBAB


MANUSIA ULUL ALBAB:

REFLEKSI KESELARASAN ANTARA KEKUATAN AKAL

DAN TRANSENDENTAL

*Oleh: Abu Farros

PENDAHULUAN

Abad ke-21 di mana kita hidup sekarang ini, menunjukkan betapa hebatnya ilmu pengetahuan dan teknologi hasil kreasi manusia. Penemuan demi penemuan di berbagai bidang secara otomatis mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan di alam ini. Media telekomunikasi yang menggunakan piranti teknologi yang sangat canggih dan sophisticated, memanjakan para pengguananya (users) untuk melakukan penjelajahan (surfing) ke seluruh sudut ruang semesta ini. Alhasil, bumi dan alam semesta ini telah disulap menjadi apa yang disebut sebagai global village karena begitu dekatnya jarak antar manusia dan tanpa batas sehingga oleh Yasraf Pilliang dikatakan sebagai bumi yang dilipat.

Dalam transportasi, manusia juga telah sukses menciptakan alat transportasi baik di darat laut maupun udara. Tempat yang berjarak ribuan kilometer mampu ditempuh hanya dalam waktu beberapa jam saja. Luar angkasa yang tadinya sebagai wilayah asing dan dianggap sebagai ‘bumi lain” bagi manusia, sekarang ini justru menjadi “buruan” dan alternatif bagi kehidupan manusia setelah bumi ini. Bahkan dengan kekuatan dan kecerdasan yang dimiliki, manusia terus berusaha melakukan serangkaian uji coba saintifik, bahkan sangat mungkin untuk dilakukan tour keliling luar angkasa. Ini sangat luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia sebelumnya.

Dunia kedokteran rupanya tidak mau ketinggalan. Seiring dengan merebak dan bertambah banyaknya jenis penyakit, yang diantaranya ditimbulkan oleh ulah manusia, dunia kesehatan dilecut untuk melakukan penelitian dan penemuan medis sebagai upaya mengatasi persoalan kesehatan yang dihadapi manusia. Praktek transplantasi organ tubuh, rekayasa genetika (genetical engeneering) sebagai upaya “menciptakan” manusia yang unggul, sampai penciptaan manusia kembar (cloning) yang ini tanpa harus melalui proses konsepsi antara ovum dan sperma, dianggap sebagai hal yang lumrah. Bukan sesuatu yang impossible, bila suatu saat nanti kecerdasan manusia dianggap telah “menandingi” kekuasaan Tuhan.

TEOLOGIS, METAFISIS DAN POSITIVISTIK

Seorang sosiolog kenamaan, Auguste Comte pernah mengatakan bahwa tahap sejarah pemikiran manusia ada tiga, yang ini menunjukkan adanya perubahan pola pikir (pattern of mind) yang mendasarkan pada kemajuan dan kemampuan akal manusia dalam menanggapi fenomena yang ada di sekelilingnya.

Pertama; tahap teologis yang mengindikasikan bahwa manusia dalam kehidupan masih begitu kuat terikat dengan nilai-nilai yang bersifat transendental, menganut suatu agama (religion) atau kepercayaan (belief). Norma teologis menjadi refference dan guidance mereka dalam segala aspek kehidupan. Bahkan ketundukan mereka begitu kuat, sehingga tidak ada nilai-nilai yang mengungguli doktrin teologis yang mereka anut dan cenderung konservatif.

Kedua; tahap metafisis. Pada tahap ini segala apa yang mereka perbuat yang didasarkan pada nilai teologis, mulai mereka pertanyakan. Cara berfikir filsafat yang spekulatif dan kontemplatif berkembang sebagai akibat tidak terpuaskannya akal manusia selama berselimut doktrin teologis.

Ketiga; tahap positivistik. Pada tahap ini, empirisme menjadi sumber filosofis bagi positivisme terutama pandangan obyektivistik tentang ilmu pengetahuan. Positivisme mengembangkan paham empirik tentang pengetahuan yang lebih ekstrem dengan mengatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu positif atau sains yaitu ilmu-ilmu yang berangkat dari fakta-fakta yang terverifikasi dan terukur secara ketat (Donny Gahral Adian: Arus Pemikiran Kontemporer, Jalasutra, Yogyakarta, 2001).

Positivisme yang dipicu oleh kebebasan berfikir yang berkembang pada era aufklarung (enlightenment), di Eropa menemukan elan vitalnya berbarengan dengan begitu kuatnya dogma gereja, yang kemudian diakhiri dengan makin merosotnya pamor gereja. Keduanya berdiri berhadapan dan bertentangan. Dengan melesatnya otoritas akal mengungguli doktrin gereja (baca: agama) , berimplikasi pada pemahaman bahwa ilmu pengetahuan harus bersifat “bebas nilai” (value free).

Agama telah tergantikan oleh sains. Misteri berubah hanya menjadi fenomena. Sesuatu yang tadinya gelap (misterius) bagi manusia dan agama sebagai “solusi pelarian”, maka dengan sains menjadi bisa diterangkan (explained). Hanya menjadi phenomenon!! Maka layak bila Tuhan diistirahatkan (deisme). Seorang Nietzche berteriak keras :”REQUIEM AETERNAM DEO! (Semoga Tuhan istirahat dalam damai!!).

DUNIA BARAT YANG MODERN DAN KACAU

Positivisme yang oleh Weber dikatakan sebagai embrio kapitalisme, berjalan secara akseleratif dengan bertumpu pada birokrasi dan kalkulasi yang ketat. Karena kapitalisme lebih berorientasi pada keuntungan, self-interest dan lepas dari nilai-nilai transendental, maka kepedulian pada sifat-sifat kemanusiaan makin terkikis. Kapitalisme telah melakukan dehumanisasi, di mana manusia tidak lagi menjadi subyek tapi sebatas sebagai faktor produksi. Manusia yang seharusnya bisa mengendalikan kemajuan sains demi kamakmuran, telah menjelma menjadi “monster” yang menakutkan. Dalam kondisi seperti ini, manusia telah mengalami alienasi hidup, sifat kemanusiaannya tercerabut, hidup menjadi individualistik, hubungan berubah menjadi kaku dan impersonal tidak lagi intim, institusi keluarga rusak, pergaulan makin permissive, merebaknya penyakit HIV/AIDS dll. Karena sains harus value free ditambah manusianya tidak lagi peduli dengan agama, maka untuk jangka waktu yang lama manusia pemuja rasio ini mengalami “hampa spiritual”. Dan dunia barat dengan segala arogansinya telah mengalami penderitaan ini.

Demi melihat trend barat yang seperti itu, Richard Tarnas mengajukan analisis tentang “The Crisis of Modern Science”. Sebagai akibat dari kesalahan ilmu barat ini, timbullah kerusakan-kerusakan pada alam (ecology), tatanan masyarakat, sifat kemanusiaan. Kerusakan alam berupa planetary ecological crisis, pemusatan kepemilikian pada kelompok tertentu, ketimpangan yang semakin lebar, kemiskinan yang meluas, dan hilangnya jati diri manusia.

Kepongahan barat yang direpresentasikan oleh Amerika dan sekutunya dengan melakukan penjajahan di negara-negara lain, adalah bukti nyata bahwa sifat rakus manusia begitu kentara. Saat mana AS dan negara sekutunya bangga dengan nuklirnya, di lain pihak negara-negara yang mulai bangkit dalam IPTEK (pembangkit nuklir di Iran, India, Pakistan, Korea) diaduk-aduk dengan berbagai alasan. Hegemoni barat begitu kuat dan memaksa negara-negara peripheral untuk tunduk dan mengakui barat sebagai polisi dunia (world police).

TURNING TO THE EAST

Banyak ilmuwan mulai menyadari bahwa pemujaan pada sains yang dikalim bebas nilai ternyata berakibat pada rasa tidak aman, kerusakan alam dan penjajahan kemanusiaan. Kalau di beberapa negara berkembang mengalami demam westo-mania, peniruan barat dalam gaya hidup dan pemahaman bahwa sains adalah segalanya--- ada yang berhasil ada pula yang gagal---, maka justru (orang-orang) barat mengalami kebosanan, kekosongan dalam hidup, putus-asa, dan mulai melirik perlunya sentuhan nilai spiritual dalam segala aspek hidupnya. Spiritualitas bisa berbentuk pelarian pada agama atau praktek ritual dan spiritual yang mereka anggap bisa menyiram dahaga jiwanya. Kebanyakan mereka kemudian melirik ke dunia belahan timur (turning to the east). Namun tidak sidikit yang tetap bergelut dengan kebebasan nilai, pengkultusan pada rasionalitas, hidup bebas dan ketidak-pastian hidup (uncertainty of life) karena mereka tidak percaya lagi dengan Tuhan, kekuatan-bathin yang bersifat hanif (fitrah). Kemudian mereka menuhankan akal (rasio, ilmu pengetahuan dan teknologi), hawa nafsu, wants, desires, dan kekayaan. Mereka adalah manusia yang telah kehilangan HATI, RASA atau QOLBUN.

MANUSIA ULUL ALBAB

Kegagalan barat dengan dominasi sains yang disertai pengkultusan pada rasio, berujung pada ketidakseimbangan manusia dalam menjalani hidup. Sekedar contoh, kecanggihan multi media yang tadinya berorientasi pada pemudahan segala persoalan, ternyata banyak menimbulkan kejahatan (cyber crime)yang sangat membahayakan bagi keamanan manusia (ekonomi, politik, privacy, penjajahan budya dsb).

Agar rasionalitas (kemampuan akal) tidak berbalik menjadi ancaman bagi manusia, maka butuh penyeimbang yaitu hati. Dengan hati yang jernih maka akan tumbuh sifat toleransi, peduli pada sesama dan alam, penghormatan pada privacy, menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Hati perlu diasah dan dibimbing oleh sebuah nilai transendental, sehingga tidak timbul arogansi dan mau menang sendiri. Manakala hati memiliki kecenderungan untuk hanif (sesuai fitrah), maka secanggih apapun sains yang dimiliki manusia, tidak akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan (sustainability) hidup manusia dan kelestarian alam. Sebagai ideal type manusia yang diberi tugas sebagai pemelihara bumi (khalifah fil ardh), adalah manakala mampu menempatkan secara imbang antara rasio dan rasa, antara akal dan transendental, antara ‘aqliyyah dan qolbiyyah, antara kemampuan fikir dan kekuatan dzikir.

Dalam konsep Islam manusia ini disebut sebagai ULUL ALBAB. Allah SWT dengan tegas berfirman dalam QS: Ali ‘Imran ; 190-191:

إن فى خلق السموت والأرض واختلاف اليل والنهارلأيت لأولى الألباب- الذين يذكرون الله قياماوقعوداوعلى جنوبهم و يتفكرون فىخلق السموت و الأرض ربنا ما خلقت هذ ا باطلا سبحانك فقنا عذا ب النار.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab api neraka”.Wallahu a’lamu bish-shawab.

*Abu Farros, pernah nyantri di Ponpes Wathaniyyah Islamiyyah Petanahan Kebumen.


Senin, 04 Januari 2010

GENERASI TANPA IDOLA


RENUNGAN:
Generasi Tanpa Idola

Ketika anak masih usia balita maka yang ia ketahui adalah lingkungan kecil yang ada di sekelilingnya, yaitu di rumah. Jalinan hubungan yang paling dekat adalah dengan sang ibu, karena ibulah yang telah mengandungnya melahirkan dan membesarkan dengan susah payah. Kedekatan seorang anak dengan sang ibu begitu amat bahkan tidak ada bandingannya, seorang ayah sekalipun. Oleh karena itulah kasih sayang, bahasa ibu serta perilaku seorang ibu menjadi contoh baginya.
Baru setelah ibu adalah ayah. Sosok ayah menjadi pelindung bagi keluarga adalah contoh kedua bagi anak, di samping kewajibannya membimbing istri agar menjadi ibu yang baik bagi anak-anak dan perempuan yang setia dan taat pada sang suami. Manakala kedua orang tua adalah sosok yang sholeh dan sholehah, saling pengertian dan kompak mendidik anak, maka secara otomatis anak-anak yang dilahirkan tidak akan bingung kepada siapa mereka mengambil teladan atau contoh.
Keberhasilan orang tua dalam mendidik anak akan mencetak generasi (anak) yang bangga dengan kedua ortunya dan akan menjadikannya sebagai idola. Anak akan merasa aman dalam lindungan ortu serta betah di rumah (merasa at home). Bagi para penghuninya, rumah adalah surga. Itu kalau keduanya adalah sosok seperti yang digambarkan di atas.
Tapi bagaimana jadinya kalau orang yang seharusnya jadi panutan adalah orang-orang yang berakhlak jelek, pemalas dan hidup jauh dari nilai-nilai Islam. Akhlak yang baik tidak terpantul dari perilaku keduanya sehingga tidak ada yang bisa ditiru oleh anak-anaknya kecuali kejelekan dan kekusutan dalam hidup. Sieisi rumah terasa pengap, hiruk pikuk oleh suara musik, tidak pernah sekalipun terdengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, terbiasa terjadi pertengkaran. Rumah serasa ramai tak beraturan bak pasar kala siang hari, namun sunyi senyap, sepi mencekam seperti kuburan kala malam datang. Para penghuninya tidak menemukan ketenangan dan kedamaian, tapi sebaliknya yang mereka temukan adalah suasana panas seperti neraka. Siapa sich orangnya yang betah hidup di pasar dan kuburan, kecuali dia adalah orang yang berhati kosong dan sudah gila !!!
Rasulullah SAW pernah bersabda:”Hiasilah rumah-rumahmu dengan bacaan Al-Qur’an dan janganlah kamu menjadikannya seperti kuburan”. Rumah yang dihuni para ahli Al-Qur’an (orang-orang yang suka membaca Al-Qur’an) akan terasa sejuk, damai, terjaga oleh malaikat dan jauh dari gangguan syetan. Sebaliknya rumah seperti kuburan sungguh menakutkan dan rumah seperti pasar sungguh tidak nyaman.
Bila ayah dan ibu bisa menjadi teladan yang baik (uswah hasanah) di mata anak serta mampu menciptakan rumah surgawi maka akan terlahir generasi yang islami. Generasi berbobot yang akan menyebarkan syiar Islam di setiap jengkal bumi. Bukan generasi yang hilang (lost generation), yaitu generasi yang tidak memiliki panutan di rumah, tidak punya masa depan, suka kluyuran mencari idola di luar rumah, awut-awutan, pecandu narkoba dan terlibat pergaulan yang tidak sehat.
Marilah kita jadikan diri kita (ortu) yang bisa menjadi idola bagi anak yang senantiasa basah dengan nilai-nilai Islam, sehingga akan lahir balita, anak, pemuda dan generasi yang berbobot dan menjadi benteng agama.
Semoga……. Amien.
Abu Farros.the owner of mentari

Minggu, 03 Januari 2010

IMAN DAN ILMU


“URGENSI IMAN DAN ILMU”

قل هل يستوى الذ ين يعلمون والذ ين لا يعلمون إنما يتذكر أولواالألباب

“ Katakan (hai Muhammad) ; Apakah sama antara orang-orang yang tahu (berpengetahuan) dan orang-orang yang tidak berpengetahuan, sesungguhnya yang ingat pada Allah adalah ulul albab” (Al-Zumar:9)

Ketika masyarakat jahiliyyah Makkah begitu berkuasa dengan segala sifat kebuasan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai ilahiyyah dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika mereka begitu angkuhnya dengan Ka’bahnya yang megah dengan dikelilingi oleh berhala latta, ‘uzza, manat, asaf dan berhala-berhala sesembahan mereka. Tiap kali mereka berthawaf di sekeliling Ka’bah seraya mengagungkan thoghut (sesembahan selain Allah SWT), mereka hanyut dalam buaian minuman khamr (arak) dan perbuatan maksiat. Ketika perang antar suku menjadi kebiasaan guna menunjukkan arogansi dan kekuatan. Dan ketika kaum wanita begitu direndahkan oleh kaum laki-laki sehingga tak ubahnya seperti harta yang bisa diwariskan, anak (bayi) perempuan yang hanya dianggap sebagai cacat keluarga sehingga pantas dibunuh. Jahiliayah-isme begitu masif, merajalela dan berurat berakar.

Di tengah hiruk pikuk praktek kekejian dan kesyirikan masyarakat kota Makkah saat itu, tersebutlah lelaki perkasa yang sangat tegas menentangnya, tapi sangat rindu akan hadirnya ketenangan spiritual dan panggilan dari Allah SWT. Dia-lah Muhammad, yang sejak kecil sangat terjaga dari segala perbuatan jahiliyah. Maka pada saat usia genap 40 tahun, ketika kegelisahan demi melihat kejahiliyah-an mengharu biru bathinnya, pergilah manusia suci ini untuk berkhalwat di sebuah gua di luar kota Makkah. Gua Hiro namanya.

Untuk beberapa lama beliau menunggu “sapaan” dari Allah SWT. Namun yang ditunggupun tidak segera datang, kegelisahanpun makin menjadi-jadi. Maka tepat pada tanggal 17 Ramadhan, Allah SWT mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu, sebagaimana pula Allah SWT telah mewahyukan kepada para rasul dan nabi sebelumnya. Bukan kepalang takutnya beliau, dalam kesunyian dan kegelapan gua, tiba-tiba muncul sesosok makhluk yang sama sekali tidak dikenalnya, mendekat lalu merangkulnya. Dikisahkan hingga sesak nafasnya dan hampir-hampir tidak bisa bergerak karena begitu kencangnya pelukan sang malaikat.

Sejurus kemudian malaikat Jibril memerintahkan : “Bacalah ya Muhammad!” ( ( اقرأ يا محمد!! , namun jawab belaiu:”Saya tidak bisa membaca” (ما أنا بقا رئ) sambil tubuhnya menggigil berkeringat. Berulang-ulang perintah Jibril tapi tetap Muhammad tidak bisa sehingga pada akhirnya beliau bisa menirukan kalimat demi kalimat yang dilafalkan malikat Jibril. Yaitu lima ayat pertma surat Al-‘alaq.

إقرأ با سم ربك الذي خلق – خلق الإنسان من علق – إقرأ و ربك الأكرم - الذى علم بالقللم – علم الإنسان ما لم يعلم .

“Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia. Yang mengajarkan dengan perantaraan Qolam (pena). Yang mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahui”.

Inilah awal turunnya Al-Qur’an, yang kita kenal sebagai peristiwa nuzul al-Qur’an. Di dalamnya terkandung makna yang agung. Allah SWT lewat Jibril mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan (al-‘ilm, science) yaitu dengan cara banyak membaca. Membaca ayat-ayat Allah yang tampak di sekeliling kita (kauniyyah) yang kemudian ditransfer dalam buku-buku, maupun ayat-ayat-Nya yang tersurat dalam Al-Qur’an (Qauliyyah).

Aktifitas “membaca” ini harus dengan “menyebut asma Allah”, artinya bahwa proses membaca dan belajar apa saja (ilmu pengetahuan) harus senantisa disertai dengan ketundukan pada Allah (iman). Inilah yang dulu pernah dikatan oleh Mantan Presiden Habibie pentingnya orang Islam mengusasi iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang didukung oleh imtaq (iman dan taqwa).

Sangat mengagumkan, bahwa diangkatnya Muhammad menjdi Nabi didahului dengan ayat yang mengandung : PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN DAN KEIMANAN PADA ALLAH. Kenabian dan risalah Muhammad SAW sangat mengegerkan dan menggoyang masyarakat jahiliyyah saat itu. Karena ajaran Islam tidak sekedar membangun tatanan masyarakat yang Islami, tapi sekaligus membongkar struktur social masyarakat jahiliyyah baik di Makkah maupun Yatsrib (oleh Nabi SAW kemudian diganti dengan nama Madinah).

Masyarakat jahiliyyah bukanlah orang-orang yang berotak bodoh apalagi idiot. Sekali lagi bukan!! Mereka pintar, tapi kepintarannya tidak dipandu oleh hati nurani yang luhur, akhlak yang mulia dan iman. Mereka punya telinga, tapi tidak untuk mendengar kebenaran (al-haq), mereka bermata dan berhati tapi tidak untuk melihat dan menerima kebenaran. Kepandaian masyarakat jahiliyyah digunakan untuk mendapat kejayaan dan kepuasan nafsu duniawai belaka. Karena tidak dituntun oleh ke-imanan, maka mereka berperangai seperti binatang, bahkan lebih rendah dari binatang, bal hum adlollu!

KONDISI SEKARANG

Di era sekarangpun, banyak manusia pintar, berotak brilian, materi melimpah. Manusia sukses menciptakan teknologi canggih hingga mampu menembus luar angkasa guna mencari “bumi lain” setelah bumi ini. Jarak yang jauh bisa ditempuh dalam waktu singkat. Kamunikasi antar orang begitu cepat berkat ditemukannya piranti teknologi yang super njlimet dan canggih (sophisticated) seperti ponsel yang sekarang bukan lagi barang mewah. Orang dengan kemahirannya mampu berselancar dan mengarungi seluruh sisi dan pojok dunia tanpa ada yang tertinggal hanya dengan memencet handphone (hp) atau media computer yang sudah on line.

Maka dalam kondisi yang serba mudah, dituntut manusia pengguna teknologi yang betul-betul siap dan berkhlak serta mampu men-filter mana yang baik mana yang buruk. Bila tidak….., maka mereka (termasuk kita) akan tergilas oleh budaya jahiliyyah, menjadi manusia instant yang pendek berpikir dan dangkal iman, dan terombang ambing tak tentu arah di antara hiruk pikuk dunia global yang telah berhasil dilipat-lipat.

Ada sebuah gambaran. Kalau dulu hubungan antar orang dilakukan dengan cara bertemu muka (personal relationship), sekarang dari yang dekat sampai yang terjauhpun bisa dilakukan dengan menggunakan media komunikasi baik kabel maupun nirkabel, tidak bertemu di tempat yang sama tapi bisa bertatap muka dengan kecanggihan phone selluler sejenis 3G, multi media dan lain-lain. Kalau dulu, orang tua kita terbiasa ‘ngonthel’ sepeda menempuh berpuluh kilo meter dan tidak merasa jauh, tapi coba sekarang banyak di antara kita yang ogah-ogahan. Kalau dulu orang-orang mencari hiburan dan tontonan layer tancap harus berbondong-bondong ke tanah lapang yang jauh, tapi sekarang media hiburan sudah hadir sendiri ke rumah kita, bahkan ke kamar kita!! Di sinilah informasi dan hiburan yang mengandung nilai positif ataupun negative akan mempengaruhi setiap orang yang menggunakannya. Bila ternyata unsur negative yang dominan maka akan berdampak tidak baik. Seorang sahabat berujar :” Saat ini lewat media super canggih, kita bisa menghadirkan nuansa ilahiy dan nuansa syaithoniy” di ruang private keluarga kita. Bukan begitu?

MANUSIA BERIMAN DAN BERILMU

Islam menawarkan konsep yang sangat jelas bahwa setiap muslim hendaknya (idealnya) memiliki sikap istiqomah (iman) dan penguasaan iptek. Bila ini ada pada diri seorang muslim maka ia akan menjadi rahmat bagi lingkungannya. Tapi sebaliknya, bila seseorang memiliki kemampuan rasio yang tinggi tapi lemah iman, maka akan berbahaya dan membabi buta dan mengancam kenyamanan orang lain dan lingkungan. Allah SAW menjanjikan bagi orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan derajat yang tinggi. Seperti dalam firman-Nya:

يرفع الله الذين امنوا منكم والذين أ و تواالعلم درجات....(الآية)

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan yang berpengetahuan beberapa derajat…..”. (Al-Mujadalah: 11)

Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan. Amien…

*abu najwa, Warga Tambak, pernah nyantri di Ponpes Al-Wathoniyyah Al-Islamiyyah Petanahan Kebumen.