ta'aruf

Foto saya
Orang biasa, belajar lewat diskusi dan sharing ide, berusaha terbuka terhadap pemikiran orang dan referensi, dan yang penting punya prinsip tentang kebenaran.Senang bersilaturrahmi dan berbagi untuk semua.

Sabtu, 09 Januari 2010

MANUSIA ULUL ALBAB


MANUSIA ULUL ALBAB:

REFLEKSI KESELARASAN ANTARA KEKUATAN AKAL

DAN TRANSENDENTAL

*Oleh: Abu Farros

PENDAHULUAN

Abad ke-21 di mana kita hidup sekarang ini, menunjukkan betapa hebatnya ilmu pengetahuan dan teknologi hasil kreasi manusia. Penemuan demi penemuan di berbagai bidang secara otomatis mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan di alam ini. Media telekomunikasi yang menggunakan piranti teknologi yang sangat canggih dan sophisticated, memanjakan para pengguananya (users) untuk melakukan penjelajahan (surfing) ke seluruh sudut ruang semesta ini. Alhasil, bumi dan alam semesta ini telah disulap menjadi apa yang disebut sebagai global village karena begitu dekatnya jarak antar manusia dan tanpa batas sehingga oleh Yasraf Pilliang dikatakan sebagai bumi yang dilipat.

Dalam transportasi, manusia juga telah sukses menciptakan alat transportasi baik di darat laut maupun udara. Tempat yang berjarak ribuan kilometer mampu ditempuh hanya dalam waktu beberapa jam saja. Luar angkasa yang tadinya sebagai wilayah asing dan dianggap sebagai ‘bumi lain” bagi manusia, sekarang ini justru menjadi “buruan” dan alternatif bagi kehidupan manusia setelah bumi ini. Bahkan dengan kekuatan dan kecerdasan yang dimiliki, manusia terus berusaha melakukan serangkaian uji coba saintifik, bahkan sangat mungkin untuk dilakukan tour keliling luar angkasa. Ini sangat luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia sebelumnya.

Dunia kedokteran rupanya tidak mau ketinggalan. Seiring dengan merebak dan bertambah banyaknya jenis penyakit, yang diantaranya ditimbulkan oleh ulah manusia, dunia kesehatan dilecut untuk melakukan penelitian dan penemuan medis sebagai upaya mengatasi persoalan kesehatan yang dihadapi manusia. Praktek transplantasi organ tubuh, rekayasa genetika (genetical engeneering) sebagai upaya “menciptakan” manusia yang unggul, sampai penciptaan manusia kembar (cloning) yang ini tanpa harus melalui proses konsepsi antara ovum dan sperma, dianggap sebagai hal yang lumrah. Bukan sesuatu yang impossible, bila suatu saat nanti kecerdasan manusia dianggap telah “menandingi” kekuasaan Tuhan.

TEOLOGIS, METAFISIS DAN POSITIVISTIK

Seorang sosiolog kenamaan, Auguste Comte pernah mengatakan bahwa tahap sejarah pemikiran manusia ada tiga, yang ini menunjukkan adanya perubahan pola pikir (pattern of mind) yang mendasarkan pada kemajuan dan kemampuan akal manusia dalam menanggapi fenomena yang ada di sekelilingnya.

Pertama; tahap teologis yang mengindikasikan bahwa manusia dalam kehidupan masih begitu kuat terikat dengan nilai-nilai yang bersifat transendental, menganut suatu agama (religion) atau kepercayaan (belief). Norma teologis menjadi refference dan guidance mereka dalam segala aspek kehidupan. Bahkan ketundukan mereka begitu kuat, sehingga tidak ada nilai-nilai yang mengungguli doktrin teologis yang mereka anut dan cenderung konservatif.

Kedua; tahap metafisis. Pada tahap ini segala apa yang mereka perbuat yang didasarkan pada nilai teologis, mulai mereka pertanyakan. Cara berfikir filsafat yang spekulatif dan kontemplatif berkembang sebagai akibat tidak terpuaskannya akal manusia selama berselimut doktrin teologis.

Ketiga; tahap positivistik. Pada tahap ini, empirisme menjadi sumber filosofis bagi positivisme terutama pandangan obyektivistik tentang ilmu pengetahuan. Positivisme mengembangkan paham empirik tentang pengetahuan yang lebih ekstrem dengan mengatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu positif atau sains yaitu ilmu-ilmu yang berangkat dari fakta-fakta yang terverifikasi dan terukur secara ketat (Donny Gahral Adian: Arus Pemikiran Kontemporer, Jalasutra, Yogyakarta, 2001).

Positivisme yang dipicu oleh kebebasan berfikir yang berkembang pada era aufklarung (enlightenment), di Eropa menemukan elan vitalnya berbarengan dengan begitu kuatnya dogma gereja, yang kemudian diakhiri dengan makin merosotnya pamor gereja. Keduanya berdiri berhadapan dan bertentangan. Dengan melesatnya otoritas akal mengungguli doktrin gereja (baca: agama) , berimplikasi pada pemahaman bahwa ilmu pengetahuan harus bersifat “bebas nilai” (value free).

Agama telah tergantikan oleh sains. Misteri berubah hanya menjadi fenomena. Sesuatu yang tadinya gelap (misterius) bagi manusia dan agama sebagai “solusi pelarian”, maka dengan sains menjadi bisa diterangkan (explained). Hanya menjadi phenomenon!! Maka layak bila Tuhan diistirahatkan (deisme). Seorang Nietzche berteriak keras :”REQUIEM AETERNAM DEO! (Semoga Tuhan istirahat dalam damai!!).

DUNIA BARAT YANG MODERN DAN KACAU

Positivisme yang oleh Weber dikatakan sebagai embrio kapitalisme, berjalan secara akseleratif dengan bertumpu pada birokrasi dan kalkulasi yang ketat. Karena kapitalisme lebih berorientasi pada keuntungan, self-interest dan lepas dari nilai-nilai transendental, maka kepedulian pada sifat-sifat kemanusiaan makin terkikis. Kapitalisme telah melakukan dehumanisasi, di mana manusia tidak lagi menjadi subyek tapi sebatas sebagai faktor produksi. Manusia yang seharusnya bisa mengendalikan kemajuan sains demi kamakmuran, telah menjelma menjadi “monster” yang menakutkan. Dalam kondisi seperti ini, manusia telah mengalami alienasi hidup, sifat kemanusiaannya tercerabut, hidup menjadi individualistik, hubungan berubah menjadi kaku dan impersonal tidak lagi intim, institusi keluarga rusak, pergaulan makin permissive, merebaknya penyakit HIV/AIDS dll. Karena sains harus value free ditambah manusianya tidak lagi peduli dengan agama, maka untuk jangka waktu yang lama manusia pemuja rasio ini mengalami “hampa spiritual”. Dan dunia barat dengan segala arogansinya telah mengalami penderitaan ini.

Demi melihat trend barat yang seperti itu, Richard Tarnas mengajukan analisis tentang “The Crisis of Modern Science”. Sebagai akibat dari kesalahan ilmu barat ini, timbullah kerusakan-kerusakan pada alam (ecology), tatanan masyarakat, sifat kemanusiaan. Kerusakan alam berupa planetary ecological crisis, pemusatan kepemilikian pada kelompok tertentu, ketimpangan yang semakin lebar, kemiskinan yang meluas, dan hilangnya jati diri manusia.

Kepongahan barat yang direpresentasikan oleh Amerika dan sekutunya dengan melakukan penjajahan di negara-negara lain, adalah bukti nyata bahwa sifat rakus manusia begitu kentara. Saat mana AS dan negara sekutunya bangga dengan nuklirnya, di lain pihak negara-negara yang mulai bangkit dalam IPTEK (pembangkit nuklir di Iran, India, Pakistan, Korea) diaduk-aduk dengan berbagai alasan. Hegemoni barat begitu kuat dan memaksa negara-negara peripheral untuk tunduk dan mengakui barat sebagai polisi dunia (world police).

TURNING TO THE EAST

Banyak ilmuwan mulai menyadari bahwa pemujaan pada sains yang dikalim bebas nilai ternyata berakibat pada rasa tidak aman, kerusakan alam dan penjajahan kemanusiaan. Kalau di beberapa negara berkembang mengalami demam westo-mania, peniruan barat dalam gaya hidup dan pemahaman bahwa sains adalah segalanya--- ada yang berhasil ada pula yang gagal---, maka justru (orang-orang) barat mengalami kebosanan, kekosongan dalam hidup, putus-asa, dan mulai melirik perlunya sentuhan nilai spiritual dalam segala aspek hidupnya. Spiritualitas bisa berbentuk pelarian pada agama atau praktek ritual dan spiritual yang mereka anggap bisa menyiram dahaga jiwanya. Kebanyakan mereka kemudian melirik ke dunia belahan timur (turning to the east). Namun tidak sidikit yang tetap bergelut dengan kebebasan nilai, pengkultusan pada rasionalitas, hidup bebas dan ketidak-pastian hidup (uncertainty of life) karena mereka tidak percaya lagi dengan Tuhan, kekuatan-bathin yang bersifat hanif (fitrah). Kemudian mereka menuhankan akal (rasio, ilmu pengetahuan dan teknologi), hawa nafsu, wants, desires, dan kekayaan. Mereka adalah manusia yang telah kehilangan HATI, RASA atau QOLBUN.

MANUSIA ULUL ALBAB

Kegagalan barat dengan dominasi sains yang disertai pengkultusan pada rasio, berujung pada ketidakseimbangan manusia dalam menjalani hidup. Sekedar contoh, kecanggihan multi media yang tadinya berorientasi pada pemudahan segala persoalan, ternyata banyak menimbulkan kejahatan (cyber crime)yang sangat membahayakan bagi keamanan manusia (ekonomi, politik, privacy, penjajahan budya dsb).

Agar rasionalitas (kemampuan akal) tidak berbalik menjadi ancaman bagi manusia, maka butuh penyeimbang yaitu hati. Dengan hati yang jernih maka akan tumbuh sifat toleransi, peduli pada sesama dan alam, penghormatan pada privacy, menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Hati perlu diasah dan dibimbing oleh sebuah nilai transendental, sehingga tidak timbul arogansi dan mau menang sendiri. Manakala hati memiliki kecenderungan untuk hanif (sesuai fitrah), maka secanggih apapun sains yang dimiliki manusia, tidak akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan (sustainability) hidup manusia dan kelestarian alam. Sebagai ideal type manusia yang diberi tugas sebagai pemelihara bumi (khalifah fil ardh), adalah manakala mampu menempatkan secara imbang antara rasio dan rasa, antara akal dan transendental, antara ‘aqliyyah dan qolbiyyah, antara kemampuan fikir dan kekuatan dzikir.

Dalam konsep Islam manusia ini disebut sebagai ULUL ALBAB. Allah SWT dengan tegas berfirman dalam QS: Ali ‘Imran ; 190-191:

إن فى خلق السموت والأرض واختلاف اليل والنهارلأيت لأولى الألباب- الذين يذكرون الله قياماوقعوداوعلى جنوبهم و يتفكرون فىخلق السموت و الأرض ربنا ما خلقت هذ ا باطلا سبحانك فقنا عذا ب النار.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),”Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab api neraka”.Wallahu a’lamu bish-shawab.

*Abu Farros, pernah nyantri di Ponpes Wathaniyyah Islamiyyah Petanahan Kebumen.


Senin, 04 Januari 2010

GENERASI TANPA IDOLA


RENUNGAN:
Generasi Tanpa Idola

Ketika anak masih usia balita maka yang ia ketahui adalah lingkungan kecil yang ada di sekelilingnya, yaitu di rumah. Jalinan hubungan yang paling dekat adalah dengan sang ibu, karena ibulah yang telah mengandungnya melahirkan dan membesarkan dengan susah payah. Kedekatan seorang anak dengan sang ibu begitu amat bahkan tidak ada bandingannya, seorang ayah sekalipun. Oleh karena itulah kasih sayang, bahasa ibu serta perilaku seorang ibu menjadi contoh baginya.
Baru setelah ibu adalah ayah. Sosok ayah menjadi pelindung bagi keluarga adalah contoh kedua bagi anak, di samping kewajibannya membimbing istri agar menjadi ibu yang baik bagi anak-anak dan perempuan yang setia dan taat pada sang suami. Manakala kedua orang tua adalah sosok yang sholeh dan sholehah, saling pengertian dan kompak mendidik anak, maka secara otomatis anak-anak yang dilahirkan tidak akan bingung kepada siapa mereka mengambil teladan atau contoh.
Keberhasilan orang tua dalam mendidik anak akan mencetak generasi (anak) yang bangga dengan kedua ortunya dan akan menjadikannya sebagai idola. Anak akan merasa aman dalam lindungan ortu serta betah di rumah (merasa at home). Bagi para penghuninya, rumah adalah surga. Itu kalau keduanya adalah sosok seperti yang digambarkan di atas.
Tapi bagaimana jadinya kalau orang yang seharusnya jadi panutan adalah orang-orang yang berakhlak jelek, pemalas dan hidup jauh dari nilai-nilai Islam. Akhlak yang baik tidak terpantul dari perilaku keduanya sehingga tidak ada yang bisa ditiru oleh anak-anaknya kecuali kejelekan dan kekusutan dalam hidup. Sieisi rumah terasa pengap, hiruk pikuk oleh suara musik, tidak pernah sekalipun terdengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, terbiasa terjadi pertengkaran. Rumah serasa ramai tak beraturan bak pasar kala siang hari, namun sunyi senyap, sepi mencekam seperti kuburan kala malam datang. Para penghuninya tidak menemukan ketenangan dan kedamaian, tapi sebaliknya yang mereka temukan adalah suasana panas seperti neraka. Siapa sich orangnya yang betah hidup di pasar dan kuburan, kecuali dia adalah orang yang berhati kosong dan sudah gila !!!
Rasulullah SAW pernah bersabda:”Hiasilah rumah-rumahmu dengan bacaan Al-Qur’an dan janganlah kamu menjadikannya seperti kuburan”. Rumah yang dihuni para ahli Al-Qur’an (orang-orang yang suka membaca Al-Qur’an) akan terasa sejuk, damai, terjaga oleh malaikat dan jauh dari gangguan syetan. Sebaliknya rumah seperti kuburan sungguh menakutkan dan rumah seperti pasar sungguh tidak nyaman.
Bila ayah dan ibu bisa menjadi teladan yang baik (uswah hasanah) di mata anak serta mampu menciptakan rumah surgawi maka akan terlahir generasi yang islami. Generasi berbobot yang akan menyebarkan syiar Islam di setiap jengkal bumi. Bukan generasi yang hilang (lost generation), yaitu generasi yang tidak memiliki panutan di rumah, tidak punya masa depan, suka kluyuran mencari idola di luar rumah, awut-awutan, pecandu narkoba dan terlibat pergaulan yang tidak sehat.
Marilah kita jadikan diri kita (ortu) yang bisa menjadi idola bagi anak yang senantiasa basah dengan nilai-nilai Islam, sehingga akan lahir balita, anak, pemuda dan generasi yang berbobot dan menjadi benteng agama.
Semoga……. Amien.
Abu Farros.the owner of mentari

Minggu, 03 Januari 2010

IMAN DAN ILMU


“URGENSI IMAN DAN ILMU”

قل هل يستوى الذ ين يعلمون والذ ين لا يعلمون إنما يتذكر أولواالألباب

“ Katakan (hai Muhammad) ; Apakah sama antara orang-orang yang tahu (berpengetahuan) dan orang-orang yang tidak berpengetahuan, sesungguhnya yang ingat pada Allah adalah ulul albab” (Al-Zumar:9)

Ketika masyarakat jahiliyyah Makkah begitu berkuasa dengan segala sifat kebuasan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai ilahiyyah dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika mereka begitu angkuhnya dengan Ka’bahnya yang megah dengan dikelilingi oleh berhala latta, ‘uzza, manat, asaf dan berhala-berhala sesembahan mereka. Tiap kali mereka berthawaf di sekeliling Ka’bah seraya mengagungkan thoghut (sesembahan selain Allah SWT), mereka hanyut dalam buaian minuman khamr (arak) dan perbuatan maksiat. Ketika perang antar suku menjadi kebiasaan guna menunjukkan arogansi dan kekuatan. Dan ketika kaum wanita begitu direndahkan oleh kaum laki-laki sehingga tak ubahnya seperti harta yang bisa diwariskan, anak (bayi) perempuan yang hanya dianggap sebagai cacat keluarga sehingga pantas dibunuh. Jahiliayah-isme begitu masif, merajalela dan berurat berakar.

Di tengah hiruk pikuk praktek kekejian dan kesyirikan masyarakat kota Makkah saat itu, tersebutlah lelaki perkasa yang sangat tegas menentangnya, tapi sangat rindu akan hadirnya ketenangan spiritual dan panggilan dari Allah SWT. Dia-lah Muhammad, yang sejak kecil sangat terjaga dari segala perbuatan jahiliyah. Maka pada saat usia genap 40 tahun, ketika kegelisahan demi melihat kejahiliyah-an mengharu biru bathinnya, pergilah manusia suci ini untuk berkhalwat di sebuah gua di luar kota Makkah. Gua Hiro namanya.

Untuk beberapa lama beliau menunggu “sapaan” dari Allah SWT. Namun yang ditunggupun tidak segera datang, kegelisahanpun makin menjadi-jadi. Maka tepat pada tanggal 17 Ramadhan, Allah SWT mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu, sebagaimana pula Allah SWT telah mewahyukan kepada para rasul dan nabi sebelumnya. Bukan kepalang takutnya beliau, dalam kesunyian dan kegelapan gua, tiba-tiba muncul sesosok makhluk yang sama sekali tidak dikenalnya, mendekat lalu merangkulnya. Dikisahkan hingga sesak nafasnya dan hampir-hampir tidak bisa bergerak karena begitu kencangnya pelukan sang malaikat.

Sejurus kemudian malaikat Jibril memerintahkan : “Bacalah ya Muhammad!” ( ( اقرأ يا محمد!! , namun jawab belaiu:”Saya tidak bisa membaca” (ما أنا بقا رئ) sambil tubuhnya menggigil berkeringat. Berulang-ulang perintah Jibril tapi tetap Muhammad tidak bisa sehingga pada akhirnya beliau bisa menirukan kalimat demi kalimat yang dilafalkan malikat Jibril. Yaitu lima ayat pertma surat Al-‘alaq.

إقرأ با سم ربك الذي خلق – خلق الإنسان من علق – إقرأ و ربك الأكرم - الذى علم بالقللم – علم الإنسان ما لم يعلم .

“Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia. Yang mengajarkan dengan perantaraan Qolam (pena). Yang mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahui”.

Inilah awal turunnya Al-Qur’an, yang kita kenal sebagai peristiwa nuzul al-Qur’an. Di dalamnya terkandung makna yang agung. Allah SWT lewat Jibril mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan (al-‘ilm, science) yaitu dengan cara banyak membaca. Membaca ayat-ayat Allah yang tampak di sekeliling kita (kauniyyah) yang kemudian ditransfer dalam buku-buku, maupun ayat-ayat-Nya yang tersurat dalam Al-Qur’an (Qauliyyah).

Aktifitas “membaca” ini harus dengan “menyebut asma Allah”, artinya bahwa proses membaca dan belajar apa saja (ilmu pengetahuan) harus senantisa disertai dengan ketundukan pada Allah (iman). Inilah yang dulu pernah dikatan oleh Mantan Presiden Habibie pentingnya orang Islam mengusasi iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang didukung oleh imtaq (iman dan taqwa).

Sangat mengagumkan, bahwa diangkatnya Muhammad menjdi Nabi didahului dengan ayat yang mengandung : PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN DAN KEIMANAN PADA ALLAH. Kenabian dan risalah Muhammad SAW sangat mengegerkan dan menggoyang masyarakat jahiliyyah saat itu. Karena ajaran Islam tidak sekedar membangun tatanan masyarakat yang Islami, tapi sekaligus membongkar struktur social masyarakat jahiliyyah baik di Makkah maupun Yatsrib (oleh Nabi SAW kemudian diganti dengan nama Madinah).

Masyarakat jahiliyyah bukanlah orang-orang yang berotak bodoh apalagi idiot. Sekali lagi bukan!! Mereka pintar, tapi kepintarannya tidak dipandu oleh hati nurani yang luhur, akhlak yang mulia dan iman. Mereka punya telinga, tapi tidak untuk mendengar kebenaran (al-haq), mereka bermata dan berhati tapi tidak untuk melihat dan menerima kebenaran. Kepandaian masyarakat jahiliyyah digunakan untuk mendapat kejayaan dan kepuasan nafsu duniawai belaka. Karena tidak dituntun oleh ke-imanan, maka mereka berperangai seperti binatang, bahkan lebih rendah dari binatang, bal hum adlollu!

KONDISI SEKARANG

Di era sekarangpun, banyak manusia pintar, berotak brilian, materi melimpah. Manusia sukses menciptakan teknologi canggih hingga mampu menembus luar angkasa guna mencari “bumi lain” setelah bumi ini. Jarak yang jauh bisa ditempuh dalam waktu singkat. Kamunikasi antar orang begitu cepat berkat ditemukannya piranti teknologi yang super njlimet dan canggih (sophisticated) seperti ponsel yang sekarang bukan lagi barang mewah. Orang dengan kemahirannya mampu berselancar dan mengarungi seluruh sisi dan pojok dunia tanpa ada yang tertinggal hanya dengan memencet handphone (hp) atau media computer yang sudah on line.

Maka dalam kondisi yang serba mudah, dituntut manusia pengguna teknologi yang betul-betul siap dan berkhlak serta mampu men-filter mana yang baik mana yang buruk. Bila tidak….., maka mereka (termasuk kita) akan tergilas oleh budaya jahiliyyah, menjadi manusia instant yang pendek berpikir dan dangkal iman, dan terombang ambing tak tentu arah di antara hiruk pikuk dunia global yang telah berhasil dilipat-lipat.

Ada sebuah gambaran. Kalau dulu hubungan antar orang dilakukan dengan cara bertemu muka (personal relationship), sekarang dari yang dekat sampai yang terjauhpun bisa dilakukan dengan menggunakan media komunikasi baik kabel maupun nirkabel, tidak bertemu di tempat yang sama tapi bisa bertatap muka dengan kecanggihan phone selluler sejenis 3G, multi media dan lain-lain. Kalau dulu, orang tua kita terbiasa ‘ngonthel’ sepeda menempuh berpuluh kilo meter dan tidak merasa jauh, tapi coba sekarang banyak di antara kita yang ogah-ogahan. Kalau dulu orang-orang mencari hiburan dan tontonan layer tancap harus berbondong-bondong ke tanah lapang yang jauh, tapi sekarang media hiburan sudah hadir sendiri ke rumah kita, bahkan ke kamar kita!! Di sinilah informasi dan hiburan yang mengandung nilai positif ataupun negative akan mempengaruhi setiap orang yang menggunakannya. Bila ternyata unsur negative yang dominan maka akan berdampak tidak baik. Seorang sahabat berujar :” Saat ini lewat media super canggih, kita bisa menghadirkan nuansa ilahiy dan nuansa syaithoniy” di ruang private keluarga kita. Bukan begitu?

MANUSIA BERIMAN DAN BERILMU

Islam menawarkan konsep yang sangat jelas bahwa setiap muslim hendaknya (idealnya) memiliki sikap istiqomah (iman) dan penguasaan iptek. Bila ini ada pada diri seorang muslim maka ia akan menjadi rahmat bagi lingkungannya. Tapi sebaliknya, bila seseorang memiliki kemampuan rasio yang tinggi tapi lemah iman, maka akan berbahaya dan membabi buta dan mengancam kenyamanan orang lain dan lingkungan. Allah SAW menjanjikan bagi orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan derajat yang tinggi. Seperti dalam firman-Nya:

يرفع الله الذين امنوا منكم والذين أ و تواالعلم درجات....(الآية)

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan yang berpengetahuan beberapa derajat…..”. (Al-Mujadalah: 11)

Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan. Amien…

*abu najwa, Warga Tambak, pernah nyantri di Ponpes Al-Wathoniyyah Al-Islamiyyah Petanahan Kebumen.

sekapur sirih


SINAR MENTARI , adalah media yang ditujukan untuk

urun rembug tentang segala persoalan yang menyangkut sosial, ekonomi, budaya, agama, siskamling dll di sekitar kita. Dikelola secara mandiri yang disokong langsung oleh Mentari Media Center (MMC) yang berdomisili di Banyumas Jateng Indonesia. Bersifat tidak cari untung, santun dalam berperasaan, inovatif dalam berfikir, progresif dalam aksi, yang senantiasa berusaha mendasarkan diri pada nilai-nilai kebenaran, dan bebas dari prasangka buruk.