Orang biasa, belajar lewat diskusi dan sharing ide, berusaha terbuka terhadap pemikiran orang dan referensi, dan yang penting punya prinsip tentang kebenaran.Senang bersilaturrahmi dan berbagi untuk semua.
Di posting kali ini kita masih membahas tentang masalah shalat, karena shalat itu sangat penting bagi umat islam. Shalat itu membedakan antara Muslim dan Kafir. Jadi kita harus benar dalam menjalankan ibadah shalat menurut Al-Qir'an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salauf Shaleh.
Beberapa hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang setelah shalat fardhu (wajib) yang lima waktu, tetapi tidak ada contoh dan dalil dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para Sahabat رضي الله عنهم.
Diantara Kesalahan dan Bid'ah tersebut ialah :
1. Mengusap muka setelah salam.(231)
2. Berdo'a dan berdzikir secara berjama'ah yang dipimpin oleh imam shalat.(232)
3. Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash/dalilnya, baik secara lafazh maupun bilangannya, atau berdzikir dengan dasar yang dha'if(lemah) atau maudhu'(palsu).
Contohnya :
- Sesudah shalat membaca "Alhamdulillah"
-Membaca Surat Al-Fatihah setelah salam
-Membaca beberapa ayat terakhir surat Al-Hasyr dan lainnya.
4. Menghitung Dzikir dengan memakai biji-bijian tasbih atau yang serupa dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang menghitung dzikir dengan biji-bijian tasbih, bahkan sebagian maudhu'(palsu).233 Syaikh Al-Albani رحمه الله mengatakan: " Berdzikir dengan biji-bijian tasbih adalah bid'ah."(234)
Syaikh Bakr Abi Zaid mengatakan bahwa Berdzikir dengan menggunakan biji-bijian tasbih menyerupai orang-orang Yahudi, Nasrani, Bhudha, dan perbuatan ini adalah bid'ah dhalaalah.(235)
Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengan menggunakan jari-jari tangan :
Dari Abullah bin 'Amr رضي الله عنه, ia berkata: " Aku melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghitung bacaan tasbih (dengan jari-jari) tangan kanannya."(236)
Bahkan, Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan para sahabat wanita menghitung : Subhanallah,alhamdulillah, dan mensucikan Allah dengan jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari kiamat).(237)
5. Berdzikir dengan suara keras dan beramai-ramai (dengna koor/berjama'ah)
Allah عزوجل memerintahkan kita berdzikir dengan suara yang tidak keras (Qs. Al-A'raaf ayat 55 dan 205, lihat Tafsiir Ibni Katsir tentang ayat ini).
Nabi صلى الله عليه وسلم melarang berdzikir dengan suara keras sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-bukhari, Muslim dan lain-lain.
Imam asy-Syafi'i menganjurkan agar imam atau makmum tidak mengeraskan bacaan dzikir.(238)
6. Membiasakan/merutinkan berdo'a setelah shalat fardhu (wajib) dan mengangkat tangan pada do'a tersebut (perbuatan ini) tidak ada contohnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم(239)
7. Saling berjabat tangan sesudah shalat fardhu (bersalam-salaman). tidak ada seorang pun dari sahabat atau Salafus Shaleh رضي الله عنهم yang berjabat tangan (bersalam-salaman) kepada orang yang disebelah kanan atau kiri, depan atau belakangnya apabila mereka selesai melaksanakan shalat. Jika seandainya perbuatan itu baik, maka akan sampai (kabar) kepada kita, dan ulama akan menukil serta menyampaikannya kepada kita (riwayat yang shahih).(240)
Para ulama mengatakan: "Perbuatan tersebut adalah bid'ah."(241)
Berjabat tangan dianjurkan, akan tetapi menetapkannya setiap selesai shalat fardhu tidak ada contohnya, atau setelah shalat shubuh dan 'Ashar, maka perbuatan ini adalah bid'ah.(242)
Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu, bilangan, dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan waktunya tanpa dalil, atau membuat cara-cara berdzikir tersendiri tanpa disertai dalil baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang shahih/hasan, seperti berdzikir secara berjama’ah (lebih jelasnya lihat kitab Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid, Al-Ibdaa’ fii Kamaalisy Syar’i wa Khatharul Ibtidaa’, Bid’ahnya Dzikir Berjama’ah, dan lain-lain).
Atau dzikir-dzikir yang sifatnya muthlaq, yaitu dzikir di setiap keadaan baik berbaring, duduk dan berjalan sebagaimana diterangkan oleh ‘A`isyah bahwa beliau berdzikir di setiap keadaan (HR. Muslim). Akan tetapi tidak boleh berdzikir/menyebut nama Allah di tempat-tempat yang kotor dan najis seperti kamar mandi atau wc.
Diantara ayat yang menjelaskan keutamaan berdzikir adalah:
“Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah:152)
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (Al-Ahzaab:41)
3. Firman Allah:
Firman Allah, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar/jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzaab:35)
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al-A’raaf:205)
“Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati.” (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)
“Permisalan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebut nama Allah adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.”
2. Dari ‘Abdullah bin Busrin radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam telah banyak atasku, maka kabarkan kepadaku dengan sesuatu yang aku akan mengikatkan diriku dengannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ
“Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidziy 5/458 dan Ibnu Majah 2/1246, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/139 dan Shahiih Sunan Ibni Maajah 2/317)
3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidziy 5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir 5/340)
Dzikir-dzikir Setelah Salam dari Shalat Wajib
Diantara dzikir-dzikir yang sifatnya muqayyad adalah dzikir setelah salam dari shalat wajib. Setelah selesai mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, kita disunnahkan membaca dzikir, yaitu sebagai berikut:
“Aku meminta ampunan kepada Allah (tiga kali). Ya Allah, Engkaulah As-Salaam (Yang selamat dari kejelekan-kejelekan, kekurangan-kekurangan dan kerusakan-kerusakan) dan dari-Mu as-salaam (keselamatan), Maha Berkah Engkau Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Baik.” (HR. Muslim 1/414)
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menolak terhadap apa yang Engkau beri dan tidak ada yang dapat memberi terhadap apa yang Engkau tolak dan orang yang memiliki kekayaan tidak dapat menghalangi dari siksa-Mu.” (HR. Al-Bukhariy 1/255 dan Muslim 414)
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan upaya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah dan kami tidak beribadah kecuali kepada Allah, milik-Nya-lah segala kenikmatan, karunia, dan sanjungan yang baik, tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, kami mengikhlashkan agama untuk-Nya walaupun orang-orang kafir benci.” (HR. Muslim 1/415)
4. Membaca tasbih, tahmid dan takbirmasing-masing 33x:
سُبْحَانَ اللهُ“Maha Suci Allah.” (tiga puluh tiga kali)
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ“Segala puji bagi Allah.” (tiga puluh tiga kali)
اَللهُ أَكْبَرُ“Allah Maha Besar.” (tiga puluh tiga kali)
Kemudian dilengkapi menjadi seratus dengan membaca,
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
“Barangsiapa mengucapkan dzikir ini setelah selesai dari setiap shalat wajib, maka diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. (HR. Muslim 1/418 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Ibnu ‘Umar berkata, “Sungguh aku telah melihat Rasulullah menekuk tangan (yaitu jarinya) ketika mengucapkan dzikir-dzikir tersebut.”
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada dua sifat (amalan) yang tidaklah seorang muslim menjaga keduanya (yaitu senantiasa mengamalkannya, pent) kecuali dia akan masuk jannah, dua amalan itu (sebenarnya) mudah, akan tetapi yang mengamalkannya sedikit, (dua amalan tersebut adalah): mensucikan Allah Ta’ala setelah selesai dari setiap shalat wajib sebanyak sepuluh kali (maksudnya membaca Subhaanallaah), memujinya (membaca Alhamdulillaah) sepuluh kali, dan bertakbir (membaca Allaahu Akbar) sepuluh kali, maka itulah jumlahnya 150 kali (dalam lima kali shalat sehari semalam, pent) diucapkan oleh lisan, akan tetapi menjadi 1500 dalam timbangan (di akhirat). Dan amalan yang kedua, bertakbir 34 kali ketika hendak tidur, bertahmid 33 kali dan bertasbih 33 kali (atau boleh tasbih dulu, tahmid baru takbir, pent), maka itulah 100 kali diucapkan oleh lisan dan 1000 kali dalam timbangan.”
Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dikatakan bahwa kedua amalan tersebut ringan/mudah akan tetapi sedikit yang mengamalkannya?“
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Syaithan mendatangi salah seorang dari kalian ketika hendak tidur, lalu menjadikannya tertidur sebelum mengucapkan dzikir-dzikir tersebut, dan syaithan pun mendatanginya di dalam shalatnya (maksudnya setelah shalat), lalu mengingatkannya tentang kebutuhannya (lalu dia pun pergi) sebelum mengucapkannya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud no.5065, At-Tirmidziy no.3471, An-Nasa`iy 3/74-75, Ibnu Majah no.926 dan Ahmad 2/161,205, lihat Shahiih Kitaab Al-Adzkaar, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy 1/204)
Kita boleh berdzikir dengan tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali dengan ditambah tahlil satu kali atau masing-masing 10 kali, yang penting konsisten, jika memilih yang 10 kali maka dalam satu hari kita memakai dzikir yang 10 kali tersebut. Hadits ini selayaknya diperhatikan oleh kita semua, jangan sampai amalan yang sebenarnya mudah, tidak bisa kita amalkan.
Tentunya amalan/ibadah semudah apapun tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah. Setiap beramal apapun seharusnya kita meminta pertolongan kepada Allah, dalam rangka merealisasikan firman Allah,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Al-Faatihah:4)
5. Membaca surat Al-Ikhlaash, Al-Falaq dan An-Naas satu kali setelah shalat Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya`. Adapun setelah shalat Maghrib dan Shubuh dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud 2/86 dan An-Nasa`iy 3/68, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/8, lihat juga Fathul Baari 9/62)
6. Membaca ayat kursi yaitu surat Al-Baqarah:255
Barangsiapa membaca ayat ini setiap selesai shalat tidak ada yang dapat mencegahnya masuk jannah kecuali maut. (HR. An-Nasa`iy dalam ‘Amalul yaum wal lailah no.100, Ibnus Sunniy no.121 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiihul Jaami’ 5/339 dan Silsilatul Ahaadiits Ash-Shahiihah 2/697 no.972)
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua tangannya dan berkata, “Ya Mu’adz, Demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu Ya Mu’adz, janganlah sekali-kali engkau meninggalkan di setiap selesai shalat, ucapan.. اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرَِ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud 2/86 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Shahiih Sunan Abi Dawud 1/284)
Do’a ini bisa dibaca setelah tasyahhud dan sebelum salam atau setelah salam. (‘Aunul Ma’buud 4/269)
“Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan pujian, yang menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
Dibaca sepuluh kali setelah shalat Maghrib dan Shubuh. (HR. At-Tirmidziy 5/515 dan Ahmad 4/227, lihat takhrijnya dalam Zaadul Ma’aad 1/300)
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.” Setelah salam dari shalat shubuh. (HR. Ibnu Majah, lihat Shahiih Sunan Ibni Maajah 1/152 dan Majma’uz Zawaa`id 10/111)
Semoga kita diberikan taufiq oleh Allah sehingga bisa mengamalkan dzikir-dzikir ini, aamiin.
Maraaji’: Hishnul Muslim, karya Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy, Shahiih Kitaab Al-Adzkaar wa Dha’iifihii, karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy dan Al-Kalimuth Thayyib, karya Ibnu Taimiyyah.
DENGAN kandungan kalium yang tinggi, kurma ternyata memiliki khasiat istimewa sebagai pereda risiko serangan stroke. Selain itu tingginya kandungan kalori kurma, membuat buah ini mampu menyediakan energi cukup besar dibanding buah lainnya.
Kalium ialah zat gizi penting bagi tubuh, terutama untuk fungsi jantung dan pembuluh darah. Mineral ini dapat membuat denyut jantung makin teratur, mengaktifkan kontraksi otot dan membantu mengatur tekanan darah. Karenanya, kandungan kalium kurma ini sangat baik bagi penderita hipertensi agar kontraksi dan relaksasi pembuluh darah bagus.
Dari sebuah penelitian tentang pola makan pada 859 orang pria dan wanita berusia di atas 50 tahun di California Utara, AS, diketahui 12 tahun kemudian jika tak seorang pun yang asupan kaliumnya tinggi yakni lebih dari 3.500 mg per hari, meninggal karena stroke.
Namun, orang yang secara teratur mengonsumsi kalium paling rendah, yakni kurang dari 1.950 mg per hari, berisiko terserang stroke jauh lebih tinggi di bandingkan lainnya. Harapan meninggal akibat stroke 2,6 kali pada pria dan 4,8 kali pada wanita.
Berdasarkan studi itu, peneliti menyimpulkan, dengan makan satu porsi ekstra makanan kaya kalium (minimal 400 mg setiap hari) risiko fatal stroke dapat berkurang hingga 40%. Jumlah kebutuhan minimal kalium itu setara dengan konsumsi kurma kering sekitar 65 gram atau lima butir kurma.
Kurma juga berkhasiat menyembuhkan Demam Berdarah (DB). Memang belum ada riset tentang hal itu, namun berbagai sumber menyebutkan, kurma yang diolah menjadi jus bisa meningkatkan kadar trombosit. Cukup dengan 200 gram kurma untuk membuat jus. Sebaiknya pilih kurma yang lunak agar mudah diblender.
Tak hanya itu, kandungan serat yang cukup besar dalam kurma, yakni sekitar 2,2 gram per 100 gram, baik untuk mengatasi sembelit. Kadar kolesterol dalam darah pun menurun karena serat dapat menghambat penyerapan lemak atau kolesterol di dalam usus besar.
TOMAT selain dimanfaatkan sebagai pelengkap masakan juga memiliki beragam khasiat untuk kesehatan. Si mungil dengan warna merah atau orange kehijauan ini kaya akan kandungan vitamin A dan C yang baik untuk tubuh. Dari bermacam jenis tomat, jenis tomat buah lah yang paling baik dikonsumsi.
Berbeda dengan sayuran lain, kandungan manfaat tomat tidak akan berkurang jika dimasak. Justru disarankan agar mengonsumsi tomat dengan cara diolah terlebih dulu. Zat-zat yang terkandung dalam tomat dapat menghancurkan radikal debas dalam masakan. Lycopene yang dikeluarkan tomat juga akan lebih banyak setelah diolah. Kandungan lycopene ini dapat mencegah kerusakan sel sebagai pemicu kanker leher rahim, kanker prostat, kanker perut dan kanker pankreas. Selain itu dapat mengobati ganguan pencernaan, diare, memulihkan fungsi lever dan serangan empedu. Gel berwarna kuning pada biji tomat dapat mencegah penggumpalan dan pembekuan darah penyebab stroke dan penyakit jantung. Namun perlu diingat, mengonsumsi tomat yang dicampur dalam masakan bersama lemak dan gula secara berlebihan, tidak baik bagi kesehatan. Khasiat tomat lainnya yakni untuk kecantikan, seperti mengobati jerawat, menghaluskan wajah, mengurangi komedo juga mencerahkan kulit. Caranya sebagai berikut: Mengobati jerawat. Rebuslah sebuah tomat, lalu potong-potong. Gosokkan potongan tomat pada bagian wajah yang berjerawat. Diamkan sepuluh menit, bilas wajah dengan air. Lakukan rutin hingga jerawat menghilang. Untuk menghaluskan wajah, Anda cukup mengoleskan perasan air tomat pada wajah. Sedangkan untuk mencerahkan kulit wajah, dengan cara mengoleskan tomat yang telah dihancurkan. Tomat juga bermanfaat mengurangi komedo. Caranya, haluskan tomat lalu campur dengan madu. Oleskan campuran itu pada wajah dan diamkan selama 15 menit. Bilas dengan air hangat. (/suaramerdeka.com/v1/index.php/read/sehat/2011/01/09/570/Tomat-si-Mungil-Kaya-Manfaat)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. [Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]
Kalimat “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah :
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya”. (QS. Al Isra’ : 36)
Dan juga firman-Nya:
“Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS. Qaff : 18)
Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya”.
Beliau juga bersabda :
“Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran”.
Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.Sebagian ulama berkata: “Seluruh adab yang baik itu bersumber pada empat Hadits, antara lain adalah Hadits “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. Sebagian ulama memaknakan Hadits ini dengan pengertian; “Apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang ia katakan itu baik lagi benar, dia diberi pahala. Oleh karena itu, ia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah”. Dalam hal ini maka perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi Karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia.
Allah berfirman :
“Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS.Qaaf : 18)
Para ulama berbeda pendapat, apakah semua yang diucapkan manusia itu dicatat oleh malaikat, sekalipun hal itu mubah, ataukah tidak dicatat kecuali perkataan yang akan memperoleh pahala atau siksa. Ibnu ‘Abbas dan lain-lain mengikuti pendapat yang kedua. Menurut pendapat ini maka ayat di atas berlaku khusus, yaitu pada setiap perkataan yang diucapkan seseorang yang berakibat orang tersebut mendapat pembalasan.
Kalimat “maka hendaklah ia memuliakan tetangganya…….., maka hendaklah ia memuliakan tamunya” , menyatakan adanya hak tetangga dan tamu, keharusan berlaku baik kepada mereka dan menjauhi perilaku yang tidak baik terhadap mereka. Allah telah menetapkan di dalam Al Qur’an keharusan berbuat baik kepada tetangga dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Jibril selalu menasehati diriku tentang urusan tetangga, sampai-sampai aku beranggapan bahwa tetangga itu dapat mewarisi harta tetangganya”.
Bertamu itu merupakan ajaran Islam, kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Sebagian ulama mewajibkan menghormati tamu tetapi sebagian besar dari mereka berpendapat hanya merupakan bagian dari akhlaq yang terpuji.
Pengarang kitab Al Ifshah mengatakan : “Hadits ini mengandung hukum, hendaklah kita berkeyakinan bahwa menghormati tamu itu suatu ibadah yang tidak boleh dikurangi nilai ibadahnya, apakah tamunya itu orang kaya atau yang lain. Juga anjuran untuk menjamu tamunya dengan apa saja yang ada pada dirinya walaupun sedikit. Menghormati tamu itu dilakukan dengan cara segera menyambutnya dengan wajah senang, perkataan yang baik, dan menghidangkan makanan. Hendaklah ia segera memberi pelayanan yang mudah dilakukannya tanpa memaksakan diri”. Pengarang juga menyebutkan perkataan dalam menyambut tamu.
Selanjutnya ia berkata : Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” , menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya menggunakan kata-kata “hendaklah untuk berkata benar” didahulukan dari perkataan “diam”. Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.
____________________
Diambil dari Hadits Arba’in An-Nawawi Dengan Syarah Ibnu Daqiqil ‘Ied , versi e-book, oleh Abu ‘Abdillah
Siapapun pasti ingin hidup sehat dan awet muda. Namun tidak semua dari kita mau dan mampu menempuh cara hidup yang sehat. Apalagi dengan kondisi masyarakat yang terus maju, hidup semakin di manjakan dan dimudahkan. Kita suka makan enak, tapi tidak peduli dengan kandungan lemak, kolesterol dan glukosa yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi. Sering duduk santai, kurang gerak, namun mata terlalu sibuk dengan tontonan di layar kaca, plus camilan gorangan yang kaya minyak dan asinan. Bermalasan untuk olah raga, dengan alasan terlalu sibuk dengan setumpuk pekerjaan, yang bisa jadi tidak begitu penting dan sekadar alasan yang dibuat-buat. Hanya sekadar ke rumah tetangga, kita malas untuk berjalan kaki, motorpun ada, dengan alasan : untuk efesiensi waktu.
Tanpa sadar atau justru kita sangat sadar, bahwa gaya hidup (lifestyle) dan pola makan kita sedikit demi sedikit telahberubah, bukan lagi karena factor kebutuhan (consumption by need)tapi digiring dikonstruksi dan di manipulasi oleh tuntutan mode, hasrat (desire) dan aktualisasi diri yang semu. Pola seperti ini secara permanent sudahter-install dalam perilaku keseharian kita, sehingga untuk men-delate-nya kita enggan, karena takut diklaim manusia produk jadul, dan kuno!!
Sejatinya, dalam tubuh kita ini ada tulang dan persendian, air, darah serta oksigen dan lain-lain yang masing-masing punya hak untuk bekerja secara normal dan alamiah sesuai dengan kebutuhan. Jika sinergitas organ tubuh kita dapat berfungsi normal, maka kita akan merasakanarti sehat, hidup yang tangkas, fit, tidak loyo dan malas serta penuh vitalitas.Kesehatan akan men-drive kita untuk selalu bersemangat dan membangun optimisme dalam meraih sukses dalam hidup.
Namun sehat fisik badan kita, ternyata bukan sesuatu yang bersifat independent, artinya kesehatan yang kita rasakan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat berkait berkelindan. Kita bukanlah sejenis binatang yang hanya memiliki instinct untuk sekadar makan sepuasnya dan menyalurkan hasrat seksual sebebasnya. Kitalihat ayam bisa makan sepuasnya tak tahu halal haram, bisa menyalurkan hasrat syahwatnya seenaknya dan sekenanya tanpa takut jeratan hukum. Ketika ayam sehat, komunitas mereka juga tak merayakan sebagai bangsa yang sehat. Sebaliknya, ketika ada yang sakit, tak ada pula ayam lain yang terpanggil untuk menolongnya dan berusaha mengobati. Bahkan sampai mati sekalipun! Sekali lagi, kita inibeda dengan binatang!!!!
Bila kita menerapkan pola makan dan gaya hidup yang sehat, maka akan berpengaruh signifikan bagi kesehatan tubuh kita. Betapapun makanan itu halal, di situ ternyata masih ada regulasi yang sangat mengangumkan yang disodorkan oleh Islam yang mulia ini, yaitu : TIDAK BERLEBIH-LEBIHAN. Rasulullah Muhammad SAW memberi tips cara makan sehat, yaitu: “BERHENTILAH MAKAN SEBELUM KENYANG”. Coba kita kritik diri kita. Sudahkah kita menepati teladan agung kita ini? Atau jangan-jangan kita sering nambah makan dan makan tanpa aturan?
Kita sering sangat ceroboh dalam makan yang berakibat fatal pada resistensi dan imunitas tubuh kita. Sudah sangat jelas bahwa merokok itu mengganggu kesehatan, tapi masih banyak pula orang yang nekad menghisapnya. Mereka berdalih: ini hak azasi saya, dan dalam agama hukumnya toh sebatas mubah atau makruh.Penulis sendiri sangat setuju dengan Keputusan hukum HARAM untuk rokok. Bukan karena penulis tidak merokok. Tapi, dilihat dari segi manapun dan sudut pandang apapun, merokok itu merugikan, merusak, membunuh, dan wujud dari perilaku boros.
HATI YANG TENANG (THUMA’NINATUL QOLBI)
Untuk menjadi sehat tidak cukup hanya dengan menjaga kesehatan fisik dan pola hidup teratur. Ada sisi lain dalam diri manusia yang perlu disentuh dan dimunculkan dalam rangka mem-balance hidup kita sebagai manusia. Manusia itu dinilai tidak hanya sebatassisi performa (bagusnya fisik, kecerdasan akal) saja, tapi lebih urgen lagi adalah keseimbangan dalam emosi dan kematangan dalam beragama (spiritual maturity). Sekali lagi, manusia itu berbeda dari binatang!!
Akan laku keras dan bernilai jual tinggi, kalau ayam yang diperdagangkan itu sehat dan gemuk.Karena memang standar yang dipakai di pasar ayam itu memang sebatas itu-itu saja. Tidak ada timbangan yang dipakai untuk mengukur korelasi positif antara stabilitas kejiwaan ayam dengan harga di pasaran. Dan tidak ada pertimbangan bagi penjual dan pembeli tentang tingkah laku keseharian ayam dengan nilai jualnya. Karena yang menjadi ukuran paten adalah : sehat dan gemuk. Yang ini jelas berbeda dengan yang namanya makhluk manusia.
Manusia yang memiliki kamatangan dalam beragama Islam, dan menempatkan diri sebagai hamba ciptaan Allah SWT, akan tunduk dan manut dengan tata aturan dan instruksi dari Sang Pencipta. Dirinya ikhlas dan ridho diatur oleh Sang pencipta, tidak berontak dan nggrundel dengan apa yang diperintahkan oleh-Nya. Dirinya berusaha semaksimal mungkin untuk menyelaraskan getar hatinya, gerak bibirnya dan langkah tubuhnya dengan tuntunan dinul Islam. Tidak merasa berat dan enggan untuk merapat (muroqobah) dan meratap (istighotsah) pada Allah di tengah kegelapan malam di saat manusia kebanyakan lelap dalam hangatnya tidur, karena kokohnya paduan antara keikhlasan hati dan kuatnya ‘azzam (kemauan) diri untuk menjadi manusia pilihan.
Muslim yang hanif, adalah manusia muslim yang tidak berat hati untuk berbagi, suka membutakan matanya dari tontonan yang tidak layak untuk dilihat, menjaga lidah dan tangannya dari berbuat yang menyakiti muslim yang lain, men-tulikan telinganya dari suara-suara syaithoniyah, meluruskan langkah kakinya untuk tetap berada di atas jalan kebenaran, memposisikan kecerdasan akalnya agar sentiasa terpandu oleh wahyu Allah, dan menjaga hati agar tetap kokoh dalam beriltizam dengan Islam dan sabar dalam menghadapi semua persoalan.
Substansi dari ini semua adalah: menjadi manusia yang zuhud yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan dicintai oleh manusia lain. Tidak serakah pada dunia, bersyukur pada Allah, tidak memendam dendam pada orang lain. Alhasil adalah hadirnya hati yang selamat dan tenang (qolbun salimun wa muthmainnun) yang akan meng-handle segala perbuatan manusia, sehalus dan sekecil apapun, baik yang dhohir maupun yang bathin.
Bila kita memiliki hati yang seperti ini, maka insya Allah hidup kita akan sehat; sehat secara rohaniyah dan jasmaniyah.
Manusia diciptakan berbeda dari binatang. Ada kesamaan memang. Bila manusia memiliki telinga, mata, hidung, kaki dan lainnya, demikian pula dengan binatang. Kelebihan manusia atas binatang adalah, bahwa manusia dilengkapi software canggih yang ter-install pada otak manusia. Dengan otak yang begitu lembut dan berkapasitas amat besar,manusia mampu men-savedalam memory-nya berbagai tipe data yang sangat beragaman dan complicated. Manusia bisa berhitung, membaca, menghafalnama orang, nama jalan, nama kota, juga mampu menyerap data kasus untuk kemudian diolah dan dicarikan solusinya. Di otak inilah, koordinasi organ tubuh dikendalikan.
Selain otak, manusia juga dilengkapi dengan hati/jantung (qolbun) yang berfungsi sebagai pengendali seluruh aktivitas manusia berupa perasaan, pikiran dan perbuatan .Qolbun adalah segumpal darah yang ada dalam tubuh manusia, yang oleh Nabi Muhammad SAW dikatakan:”.. bila hati itu baik maka baik pula seluruh amal, dan apabila hati rusak, rusak pula seluruh amalnya.”
Ketika hati itu baik maka hakekatnya hati itu adalah hati yang selamat (qolbun salim), dituntun oleh cahaya Allah yang senantiasa menuju pada jalan yang lurus dan hanif. Hati yang akan mengendalikan seluruh aqwal dan af’al untuk senantiasa memenuhi panggilan kebenaran, yaitu dinul Islam.
Hidupnya akan diliputi oleh kejujuran dan ketenangan, tidak korup kepada manusia maupun Allah.Orang-orang seperti ini adalah mereka yang menjadi kekasih Allah (auliyaullah), yang mentransformasikan dirinya dalam bimbingan Allah dari kegelapan-kegelapan (adl-dlulumat) menuju cahaya kebenaran (nur-alhaq) Namun, manakala di dalam tubuh manusia bercokol gumpalan darah yang keras dan sakit (qolbun maridh), maka bentuk aktualisasi eksternal akan rusak dan sesat lagi menyesatkan. Getar hatinya, perasaan, pikiran dan perbuatannya penuh dengan selubung kedustaan (alkidzb)dan kesombongan (alkibru). Hati seperti ini akan selalu menolak kebenaran dari Allah dan meremahkan manusia lain. Merekalah kekasih-kekasih thoghut yang mengajak mereka dari kebenaran menuju kesesatan (kegelapan) (al-Baqoroh:257)
Wal’iyadzu billah.
Sebagai hamba Allah kita senantiasa memohon pada-Nya agar hati kita dikokohkan di atas dien-Nya, mulazamah dalam keimanan danmudawamah (kontinuitas) dalam beramal baik. Kata Nabi: “Iman itu bisa mengalami pasang naik dan pasang surut.” Iman adalah suatu kondisi yang terus dinamis dan berayun mengikuti kecenderungan kebaikan dan keburukan amal. Dan manusia oleh Allah sudah dibekali dalam dirinya dua potensi yang terus berseteru dan bersifat paradox; kecintaan pada ketaqwa-an dan kecintaan pada kefujur-an.
Kata Nabi lagi:”Iman akan naik dan bertambah bila terus dipupuk dengan ibadah, dan akan mengalami degradasi manakala dihiasi dengan kemaksiatan”. Ibadah adalah paduan antara ikhlas, tawadlu, amal dan ittiba’. Sedang maksiat adalah sebaliknya. Tidaklah dikatakan sebagai amal shalih bila sekedar ittiba’ (mutaba’ah arrosul) tapi tidak ikhlas. Atau hanya bermodalkan ikhlash tapi tidak mau mengikuti tuntunan Rasul.
Untuk itu marilah kita senantiasa berdoa;”Ya Allah, jadikanlah hati kami untuk senantiasa cinta pada keimanan dan hiaskanlah iman pada hati kami. Dan jadikanlah hati kami senantiasa benci pada kekufuran, fusuk dan maksiat, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”